JAKARTA, KITOUPDATE.COM — Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meskipun harga minyak mentah dunia terus merangkak naik dan berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN.
Kepastian itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, seusai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Bahlil mengatakan, pemerintah saat ini tengah menghitung dampak kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) terhadap kebutuhan anggaran subsidi energi.
“Yang sekarang kita lagi memperhitungkan adalah harga ICP global yang naik terus. Karena begitu harga ICP global naik terus, itu kemungkinan besar akan menambah top up subsidi. Tetapi pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi, tidak ada kenaikan,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, harga ICP saat ini berada di kisaran 92 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang berada di sekitar 70 dolar AS per barel.
Pemerintah memperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi bertahan di bawah 100 dolar AS per barel jika tren saat ini berlanjut. Namun, kenaikan harga tersebut tetap berisiko meningkatkan kebutuhan anggaran untuk menjaga harga BBM bersubsidi.
Artinya, komitmen mempertahankan harga BBM bersubsidi berpotensi membutuhkan tambahan dukungan fiskal apabila harga minyak dunia terus meningkat.
“Jadi relatif oke. Untuk BBM subsidi, insyaallah tidak ada kenaikan ya,” ujar Bahlil.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Selain membahas kebijakan energi, Bahlil juga memaparkan proyeksi penerimaan negara dari sektor batu bara yang diperkirakan melampaui target.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara yang ditargetkan sebesar Rp133 triliun diproyeksikan menembus lebih dari Rp160 triliun. Sementara devisa ekspor batu bara yang ditargetkan mencapai 27 miliar dolar AS diperkirakan melampaui 30 miliar dolar AS.
Meski demikian, perkembangan harga minyak dunia dan kebutuhan tambahan subsidi energi tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. (**)


































