OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Di tengah kondisi keuangan daerah yang megap-megap, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) justru kembali memoles fasilitas olahraga yang sejak lama minim fungsi. Bukan puskesmas, bukan perbaikan jalan, apalagi layanan dasar masyarakat. Yang direhabilitasi adalah lapangan tenis.
Hampir Rp500 juta APBD OKI Tahun 2025 digelontorkan untuk merehabilitasi Lapangan Tenis Pemkab OKI. Proyek ini terasa janggal, mengingat pemerintah daerah sendiri mengakui tengah mengalami defisit anggaran sekitar Rp560 miliar dan melakukan efisiensi belanja di berbagai sektor.
Lebih ironis lagi, rehabilitasi yang baru dimulai sekitar Oktober 2025 itu kini sudah menyisakan tanda tanya. Sejumlah pagar kawat dan besi penyangga tampak mengalami perubahan warna dan indikasi karat, meski usia pekerjaan belum genap beberapa bulan.
Jika fasilitas yang baru direhabilitasi saja sudah menunjukkan degradasi kasat mata, maka kualitas perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut wajar dipertanyakan.
Secara administratif, proyek ini memang tercatat rapi. Dikerjakan oleh CV Dua Ara Sukses dengan nilai kontrak Rp496.500.000 dan masa pelaksanaan 60 hari kalender. Namun, kebijakan publik tidak cukup dinilai dari kelengkapan dokumen semata.
Pertanyaan mendasarnya jauh lebih sederhana, untuk siapa proyek ini dibuat, seberapa besar manfaatnya bagi publik, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Pantauan di lapangan menunjukkan, lapangan tenis tersebut nyaris tanpa aktivitas. Tidak tampak geliat olahraga, baik dari aparatur sipil negara maupun masyarakat umum. Padahal, rehabilitasi ini diklaim bertujuan meningkatkan fungsi dan kualitas sarana olahraga.
Faktanya, lapangan tenis ini memang sejak lebih dari satu dekade lalu dikenal minim pemanfaatan. Lokasinya berada di kawasan perkantoran Pemkab OKI yang relatif tertutup dari akses publik luas, dan tidak pernah menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat. Fakta ini seharusnya cukup menjadi alarm sebelum ratusan juta rupiah uang rakyat digelontorkan.
Belum lagi soal perubahan tren olahraga. Dalam beberapa tahun terakhir, tenis kian kehilangan peminat, terutama di kalangan generasi muda. Posisinya tergeser oleh olahraga padel yang lebih inklusif, mudah dimainkan, dan berkembang pesat di berbagai kota. Lapangan padel tumbuh di ruang komersial dan komunitas, sementara lapangan tenis justru banyak yang terbengkalai.
Tanpa kajian kebutuhan dan tren, rehabilitasi lapangan tenis berisiko menjadi proyek nostalgia tanpa faedah.
Ketua DPD IWO Indonesia OKI, Aliaman, menilai proyek ini tidak mencerminkan skala prioritas yang rasional.
“Judul kegiatannya rehabilitasi lapangan tenis. Tapi anggarannya hampir setara membangun lapangan tenis baru dari nol,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Perbandingan itu relevan. Secara umum, pembangunan lapangan tenis outdoor publik dari awal hingga selesai berkisar Rp450 juta hingga Rp550 juta. Jika sekadar rehabilitasi fasilitas lama menelan Rp496,5 juta, publik berhak mengetahui secara rinci pekerjaan apa saja yang dilakukan dan apa justifikasi teknis serta ekonominya.
“Tanpa penjelasan terbuka, proyek ini rawan diselewengkan. Atau paling tidak, menjadi bentuk pemborosan anggaran di tengah kondisi fiskal yang sulit,” tegasnya. (Rico)






























