OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Intensitas kunjungan Herman Deru ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam dua bulan terakhir memantik perhatian publik. Sembilan kali kunjungan dalam waktu relatif singkat bukan sekadar rutinitas pemerintahan, tetapi menegaskan bahwa kabupaten terluas di Sumatera Selatan itu tengah menghadapi persoalan serius, terutama di sektor infrastruktur.
Kunjungan terbaru berlangsung dalam agenda Safari Ramadan di Pendopoan Rumah Dinas Bupati di Kayuagung. Gubernur datang bersama jajaran Forkopimda Sumsel, di antaranya Ujang Darwis selaku Pangdam II Sriwijaya, Sandi Nugroho selaku Kapolda Sumsel, Ketua TP-PKK Sumsel Feby Deru, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Ratu Tenny Leriva.
Namun di balik suasana silaturahmi Ramadan, pernyataan gubernur justru menggarisbawahi persoalan mendasar. Ia menyebut pemerintahan saat ini di bawah Muchendi Mahzareki harus menghadapi “banyak warisan infrastruktur” yang perlu segera diperbaiki atau dibangun ulang.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa problem pembangunan di OKI bukan persoalan baru, melainkan akumulasi lama yang belum terselesaikan.
Infrastruktur Lama, Tekanan Baru
Menurut Herman Deru, posisi geografis OKI yang berbatasan dengan banyak kabupaten dan provinsi, baik darat maupun perairan, membuat kompleksitas pembangunan semakin tinggi. Jalan penghubung, konektivitas antarwilayah, hingga akses logistik menjadi tantangan utama.
Pemprov Sumsel pun menggelontorkan Bantuan Gubernur Bersifat Khusus, terutama untuk perbaikan jalan. Namun intensitas kunjungan gubernur memunculkan pertanyaan.
“Apakah intervensi provinsi ini cukup untuk menyelesaikan masalah struktural yang telah bertahun-tahun menumpuk?
Jika dalam dua bulan diperlukan sembilan kali kunjungan tingkat provinsi, publik bisa menafsirkan bahwa kondisi infrastruktur OKI memang berada pada level prioritas darurat.
Dimensi Politik dan Stabilitas Sosial
Dalam sambutannya, gubernur juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah antara ulama, umara, dan masyarakat serta mempertahankan Sumsel sebagai wilayah “zero konflik”. Pesan ini menandakan bahwa pembangunan fisik tidak berdiri sendiri, stabilitas sosial juga menjadi perhatian pemerintah.
Kehadiran Ishak Mekki, anggota DPR RI sekaligus orang tua Bupati Muchendi, turut memberi warna tersendiri. Kehadiran figur politik lintas level pemerintahan menunjukkan bahwa isu pembangunan OKI bukan lagi urusan lokal semata, tetapi telah menjadi perhatian lebih luas.
Apresiasi dan Harapan Daerah
Bupati Muchendi menyampaikan apresiasi atas perhatian gubernur dan bantuan anggaran infrastruktur yang dinilai sangat membantu mobilitas masyarakat dan peningkatan kesejahteraan.
Namun di sisi lain, publik menunggu indikator konkret:
berapa kilometer jalan yang akan diperbaiki, berapa lama target penyelesaian, dan bagaimana mekanisme pengawasan agar “warisan masalah” tidak kembali menjadi beban pemerintahan berikutnya.
OKI di Persimpangan Arah Pembangunan
Serangkaian kunjungan gubernur menunjukkan dua hal sekaligus, kepedulian tinggi pemerintah provinsi dan besarnya tantangan pembangunan yang dihadapi OKI.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah perhatian sudah diberikan, melainkan seberapa cepat perhatian itu berubah menjadi hasil nyata di lapangan.
Jika tidak, sembilan kunjungan dalam dua bulan bisa dikenang bukan sebagai percepatan pembangunan, melainkan sebagai bukti betapa beratnya pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. (Eko Saputra)
































