OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) OKI memperkuat implementasi Gerakan Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup satu tahun pendidikan anak usia dini (PAUD) sebelum melanjutkan ke jenjang SD hingga SMA/sederajat. Program ini menjadi bagian dari enam prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membangun generasi emas.
Enam prioritas tersebut meliputi penguatan pendidikan karakter, pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi, numerasi, dan sains teknologi, pemenuhan sarana prasarana, hingga pembangunan bahasa dan sastra.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, Muhammad Refly, S.Sos,.MM, menekankan pentingnya satu tahun prasekolah bagi tumbuh kembang anak.
“Pendidikan prasekolah itu penting sekali, karena perkembangan zaman sekarang luar biasa. Dulu wajib belajar 12 tahun, sekarang ditambah prasekolah,” ujar Refly Jumat (26/09/2025).
Ia menilai PAUD bukan sekadar ruang bermain. Anak dilatih bersosialisasi, belajar mandiri, hingga membangun kepercayaan diri. Mereka yang terbiasa di PAUD lebih siap menghadapi transisi ke SD.
“Kalau anak sudah sekolah prasekolah, ketika masuk SD, anak akan lebih berani. Malah ada yang bilang, ‘Mama, nggak usah diantar. Mama nggak usah masuk.’ Itu artinya mereka sudah terbiasa mandiri,” tuturnya.
Menurut Refly, pengalaman sederhana seperti menunggu giliran atau berinteraksi dengan teman sebaya menjadi bekal penting. Tanpa itu, anak berisiko minder, bahkan takut sekolah. Kesadaran orang tua juga dinilai perlu dibangun untuk mengedukasi keluarga tentang pentingnya pendidikan usia dini.
Untuk memastikan semua anak mendapat kesempatan prasekolah, Pemkab OKI membentuk jejaring Bunda PAUD hingga tingkat kelurahan dan Desa.
“Ada yang belum sekolah, ada yang tidak mau sekolah, itu kami data, kami datangi satu-satu. Kalau tidak mau sekolah, kami ajak ngobrol, kita cari solusinya,” jelas Refly.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten OKI, juga menyampaikan keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas perangkat daerah.
“Bunda PAUD yang ada diseluruh wilayah Kabupaten OKI sangatlah support, sehingga kami bisa fokus memberikan layanan di satuan pendidikan. Kalau ada anak yang mau sekolah tapi terkendala biaya, langsung kita carikan solusinya” ungkap Refly.
Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Paud dan Dikmas OKI, menegaskan meskipun TK dan PAUD tidak menjadi syarat formal masuk SD, manfaatnya terlihat nyata. Anak menjadi lebih mandiri, bahkan dalam hal sederhana seperti memakai baju sendiri.
“Itu bentuk kemandirian. Jadi orang tua akan lebih percaya menitipkan anaknya dan kita pun bisa melihat perbandinganya antara anak yang lebih dahulu mengenyam bangku sekolah di Paud ketika masuk ke SD dengan yang tidak atau belum mengikuti prasekolah, tentu sangat jauh perbedaannya,” sambung Desi.
Selain membangun karakter, pendidikan di PAUD OKI juga diintegrasikan dengan literasi, numerasi, dan nilai agama yang dikemas menyenangkan. Desi pun menekankan suasana belajar harus aman dan menggembirakan.
“Jangan sampai orang tua sudah memasukkan anak, tapi di sekolah tidak menyenangkan, dan satuan pendidikan wajib berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan suasana yang menyenangkan tersebut” tegasnya.
Kabid Paud pun menegaskan komitmen ini menunjukkan Pemkab OKI tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Dengan atensi ini terus terjaga, kita semua menyakini Kabupaten OKI akan terus melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya. (Hendri)


































