OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Sejak tahun 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, sebuah pengakuan yang membanggakan dan sekaligus menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi ini. Hal tersebut jugalah yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten OKI melalui Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (Diskoperin).
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (Diskoperin) Kabupaten OKI, Suhaimi, AP.,M.Si mengatakan, Batik telah dikenal sejak zaman kerajaan di Nusantara, terutama di wilayah Jawa.
“Seni membatik pada awalnya dilakukan di kalangan keraton untuk menghias pakaian keluarga kerajaan. Motif-motif batik pada masa itu mengandung simbol-simbol yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan, seperti motif parang dan kawung” ujar Kadis Diskoperin. Selasa (11/11/2025).
Kadis Diskoperin melanjutkan, seiring waktu, seni batik berkembang di luar keraton dan diterima oleh masyarakat luas. Pengaruh budaya dari luar, seperti Tiongkok, India, Arab, dan Eropa, juga turut memperkaya motif dan gaya batik.
“Misalnya, batik pesisir, yang berkembang di daerah pantai utara Jawa, menunjukkan perpaduan berbagai elemen budaya dalam desainnya yang lebih bebas dan penuh warna” lanjut Kadisdik Diskoperin.
Seiring perkembangan zaman dan modernisasi seperti sekarang ini, keindahan dan kebesaran budaya batik terus terjaga kelestariannya bahkan pemerintah khususnya pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan kerajinan batik yang merupakan simbol kekayaan budaya negara Indonesia.
“Batik merupakan simbol kebudayaan negara kita, bahkan hampir disetiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri misalnya di Kabupaten OKI, batik perahu kajang merupakan salah satu batik yang menjadi kebanggaan kita bersama yang kaya akan nilai histori, adat istiadat yang ada di Kabupaten OKI yang hingga saat ini terus terjaga” terang Kadis Diskoperin.
– Teknik Dan Proses Pembuatan Batik
Suhaimi, Salah satu pengerajin Batik yang eksistensinya sudah diakui oleh pemerintah daerah kabupaten OKI, yang berasal dari desa Pematang Buluran Kecamatan SP Padang menggambarkan, secara umum batik dibuat melalui proses yang panjang dan rumit.
“Awalnya, pola digambar di atas kain menggunakan malam (lilin) yang dipanaskan dengan alat khusus bernama canting atau cap (stempel). Setelah pola selesai, kain dicelupkan ke dalam pewarna, di mana bagian yang tertutup malam akan tetap berwarna asli kain. Proses ini bisa diulang beberapa kali untuk menciptakan desain yang rumit dan kaya warna” ungkap Suhaimi.
Teknik ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tinggi. Tidak heran jika batik menjadi salah satu karya seni tekstil yang bernilai tinggi, baik dari segi estetika maupun sejarahnya.
– Batik Sebagai Identitas Dan Warisan Budaya
Sementara itu camat SP Padang Indra Husin, S.Sos,.M.Si menegaskan bahwa Batik tidak hanya sekadar kain atau pakaian, melainkan cerminan dari identitas dan jati diri bangsa Indonesia.
“Setiap motif batik memiliki makna filosofis yang mendalam dan kerap mencerminkan nilai-nilai kehidupan, seperti harapan, kesuburan, dan kesejahteraan. Misalnya, motif perahu kajang yang ada di Kabupaten OKI sendiri melambangkan kemakmuran, perjalanan sejarah dan kekayaan dan keberagaman adat istiadat yang ada sejak dahulu dengan laut dan sungai menjadi sumber penghidupan masyarakat” tegas Indra.
Di banyak daerah di Indonesia, batik juga menjadi bagian penting dalam upacara adat, pernikahan, hingga pemakaman. Hal ini menunjukkan bahwa batik memiliki peran yang sangat penting dalam siklus kehidupan masyarakat Indonesia.
– Upaya Pelestarian Batik di Kabupaten OKI
Camat SP Padang melanjutkan, Sebagai generasi penerus, sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga dan melestarikan batik. Pemerintah, bersama masyarakat, terus berupaya melindungi seni batik melalui berbagai program edukasi, pelatihan, serta promosi batik di tingkat daerah hingga nasional.
“Di desa-desa, khususnya di Desa Pematang Buluran, para pengrajin batik berperan penting dalam meneruskan tradisi ini, dengan menciptakan karya-karya batik yang unik sesuai dengan kearifan lokal. Melalui pelestarian batik, kita tidak hanya menjaga warisan budaya nenek moyang, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi lokal dan memperkenalkan kekayaan budaya” jelas Indra.
Akhirnya camat SP Padang pun berharap kepada seluruh elemen masyarakat dengan mengedepankan kebersamaan untuk melestarikan batik sebagai simbol budaya Indonesia yang telah diakui oleh dunia.
“Untuk itu, mari bersama-sama melestarikan dan mencintai batik sebagai kebanggaan kita, warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang” tutup Indra. (Hendri)


































