OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Fenomena fatherless di Indonesia menjadi salah satu isu sosial yang kian mengkhawatirkan. Fatherless sendiri merupakan situasi di mana anak tidak mendapatkan pengasuhan, kehadiran, maupun peran ayah yang memadai, meskipun ayah secara fisik masih ada.
Fenomena ini membawa berbagai dampak serius bagi perkembangan anak, baik secara psikologis maupun emosional.
Menyikapi hal tersebut Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten OKI, Muhammad Refly, angkat bicara dan memberikan respons untuk fenomena bangsa tanpa ayah atau fatherless nation yang sedang marak diangkat diberbagai flatform media sosial (medsos) baru-baru ini.
Kadisdik OKI ini menyebut, fenomena fatherless nation mengingatkan bahwa saat ini terdapat anak-anak yang hidup dalam keluarga tanpa ayah. Hal itu terjadi dalam arti yang sesungguhnya maupun juga kiasan.
Dalam makna sebenarnya, Kadisdik OKI menafsirkan dan menyebut bahwa pada masa sekarang ini struktur keluarga tidak lagi sama. Sebab terdapat keluarga yang hanya terdiri dari seorang ibu dan anak – orang-orang biasanya menyebutnya sebagai single parent.
“Ini sering disebut fenomena fatherless nation, anak ini punya ayah, sang istri juga punya suami. Tetapi sang ayah dan suaminya tidak pernah mengurusi istri dan anaknya, makanya muncul fenomena tersebut” kata Refly. Senin (21/10/2025)
Kadisdik menyebut Fenomena fatherless nation dalam makna yang ini patut mendapat perhatian dari semua pihak. Sebab peran seorang ayah dalam kehidupan anak dan keluarga dibutuhkan untuk membangun bangsa hebat.
Ia juga menjelaskan fenomena fatherless nation dalam konteks negara. Fatherless nation dalam konteks ini merupakan sebuah negara yang miskin teladan, atau miskin contoh yang baik dari pemimpin negaranya.
“Oleh karena itu ketika kita berbicara pendidikan anak usia dini, peran ibu sangat penting. Tetapi peran ayah juga tidak kalah pentingnya. Inilah yang menjadi tantangan kita semua saat ini,” ungkap Refly.
Kadisdik OKI melanjutkan Terjadinya fenomena fatherless nation, merupakan tantangan yang muncul bersamaan dengan perkembangan ekonomi dan sosial. Sebab perkembangan Ekosos berpengaruh kepada struktur keluarga Indonesia.
Di tengah perubahan struktur keluarga dan fenomena fatherless nation, pendidikan anak sejak usia dini menurutnya menjadi sebuah keniscayaan. Maka pemerintah khususnya Dinas Pendidikan OKI berkomitmen untuk mendukung PAUD untuk tetap berdiri dan berkembang.
“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi solusi dari masalah sosial akibat dari perubahan struktur keluarga dan fenomena fatherless nation itu. Situasi ini bukan hanya fenomena perkotaan, tapi juga sudah terjadi perdesaan dan ini adalah memerlukan peran kita semua” tegas Refly.
Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Dikmas, Desi Puspitasari, SE,.MM menyebutkan bahwa Fenomena fatherless ini membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Dukungan terhadap peran pengasuhan ayah harus ditingkatkan agar anak-anak bisa tumbuh dengan sehat baik secara fisik, psikis, maupun emosional” imbuh Desi.
Ia melanjutkan Peran keluarga, terutama sosok ayah, sangat dibutuhkan demi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas. Karena itu, upaya membangun kesadaran akan pentingnya pengasuhan ayah menjadi langkah mendesak yang harus segera diwujudkan.
Desi pun menegaskan pentingnya kedua orang tua, baik ayah maupun ibu, berkolaborasi dalam pengasuhan anak sebagai sebuah tanggung jawab bersama. Hal ini agar fenomena fatherless ini bisa segera teratasi.
“Keluarga adalah kunci utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak, dan kolaborasi yang baik Antara seorang ibu dan ayah dapat terlihat diaktivitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), makanya jenjang PAUD ini sangatlah penting untuk membentuk karakter anak sejak dini.” pungkas Desi. (Hendri)


































