OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Pengurangan Dana Desa bukan sekadar koreksi angka dalam tabel anggaran. Ia adalah cermin besar yang mendadak ditegakkan di hadapan wajah kepemimpinan desa. Dan seperti semua cermin yang jujur, tidak semua orang siap menatap pantulannya. Di sana tampak jelas siapa yang berdiri tegak dengan gagasan, dan siapa yang selama ini hanya hidup dari belanja, bukan dari pikiran.
Saat Dana melimpah, hampir semua tampak bekerja. Program berjalan, proyek bergulir, laporan menebal. Namun ketika anggaran menyusut, barulah terang siapa pemimpin dan siapa sekadar pengelola kas.
Selama bertahun-tahun, Dana Desa menjadi tongkat penyangga pembangunan, jalan dicor, gedung ditegakkan, bantuan dibagikan. Desa memang bergerak, tetapi sering kali bukan karena dituntun visi, melainkan karena diseret oleh dana.
Maka ketika tongkat itu dipendekkan, langkah pun terlihat goyah. Pembangunan yang dulu berlari kini tertatih, bahkan ada yang jatuh tersungkur. Itulah Sepenggal ungkapan kata visioner dari Kepala Desa Terate sekaligus Ketua Forum Kepala Desa (FKD) Kecamatan SP Padang, Hamdani Supardansyah, SH atau yang lebih akrab dengan sapaan Kades Dani.
“Berkurangnya Dana Desa sejatinya bukan bencana pembangunan, melainkan ujian kepemimpinan. Ia membuka panggung seleksi alam yang keras namun adil. Desa yang inovatif dan kreatif mungkin terguncang, tetapi tidak tumbang. Mereka mencari celah, membaca potensi, dan memutar otak” ujar Dani. Jumat (23/01/2026).
Kades Dani melanjutkan di titik inilah, Desa sedang diuji bukan dari tebalnya laporan serapan anggaran, melainkan dari tajam atau tumpulnya gagasan. Fakta sederhana pun akhirnya terbuka bahwa tidak semua yang pandai belanja mampu bekerja. Tidak semua yang rajin membagi bantuan memahami cara mencipta sumber penghidupan.
“Bantuan sosial tentu penting. Ia adalah wujud kehadiran dan empati negara. Namun desa bukan panti belas kasihan yang hidup dari pemberian abadi. Desa harus beranjak dewasa dan belajar menghasilkan, bukan sekadar menghabiskan. Desa membutuhkan pendapatan, bukan hanya proposal, membutuhkan usaha, bukan sekadar harapan. Tanpa itu, desa akan selamanya menjadi tangan yang menadah, bukan tangan yang mencipta” tegas Dani.
Kades Dani pun menjelaskan, bahwa semangat Undang-Undang Desa sudah sangat jelas, kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Semangat itulah yang harusnya kembali dibangkitkan oleh seorang pemimpin yang ada di Desa.
“Kini, pengurangan Dana Desa datang seperti lonceng keras di tengah tidur panjang. Ia memaksa desa dan para pemimpinnya terbangun. Kenyataannya pahit namun tak terbantahkan, kepemimpinan tanpa visi akan tersingkir dengan sendirinya. Desa yang dipimpin tanpa arah akan berjalan di tempat, bahkan mundur. Sebaliknya, kepala desa yang visioner akan menjadikan keterbatasan anggaran sebagai tantangan, pemicu kreativitas, bukan alasan untuk meratap, untuk itu mari jadikan semua ini semangat bersama untuk bangkit dalam membangun desa” pungkas Dani.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa besar Dana Desa yang dihabiskan akan tetapi Sejarah hanya akan mengingat satu hal yaitu apakah ia meninggalkan desa yang bergantung, atau desa yang berdaulat. (Hendri)
































