Beranda Headline Tanker Pertamina Tertahan di Hormuz, Ujian Ketahanan Energi RI

Tanker Pertamina Tertahan di Hormuz, Ujian Ketahanan Energi RI

36
0

JAKARTA, KITOUPDATE.COM — Pemerintah Indonesia menghadapi ujian serius dalam menjaga stabilitas energi nasional setelah dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di kawasan strategis Selat Hormuz, di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengakui proses diplomasi untuk mengeluarkan kapal dari wilayah tersebut tidak berjalan mudah. Ia menyebut komunikasi dengan pemerintah Iran terus dilakukan, namun belum memberikan kepastian waktu.

“Situasi ini tidak sederhana. Kita terus bangun komunikasi agar kapal bisa keluar dengan aman,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/3/2026)

Meski pemerintah berupaya meredam kekhawatiran publik dengan menyatakan ketahanan energi nasional tetap terjaga, fakta bahwa kapal berada di salah satu jalur distribusi minyak paling sensitif di dunia menimbulkan pertanyaan soal kesiapan mitigasi risiko Indonesia terhadap gejolak global.

Di sisi korporasi, PT Pertamina (Persero) memastikan keselamatan awak kapal tetap menjadi prioritas. Namun, transparansi terkait posisi, muatan, dan skenario evakuasi kapal masih terbatas.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan terdapat empat kapal terkait, tetapi hanya dua yang berada di dalam Selat Hormuz. Ia juga menyebut ketergantungan impor minyak mentah dari Timur Tengah saat ini mencapai sekitar 19 persen dari total impor nasional.

Angka tersebut menunjukkan eksposur Indonesia terhadap kawasan konflik masih signifikan, sehingga potensi gangguan distribusi tetap menjadi risiko nyata—terlepas dari klaim pemerintah bahwa pasokan alternatif telah disiapkan, termasuk dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menyatakan Iran telah merespons positif permintaan Indonesia agar kapal dapat melintas dengan aman. Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengatakan koordinasi intensif terus dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.

Namun demikian, hingga kini belum ada kepastian kapan kedua kapal tersebut dapat keluar dari Selat Hormuz. Ketidakpastian ini mempertegas kerentanan rantai pasok energi Indonesia yang masih bergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah.

Di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, peristiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat diversifikasi sumber energi serta memperkuat strategi logistik energi nasional agar tidak mudah terjebak dalam konflik geopolitik eksternal. (Ant/E. Saputra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini