Beranda Headline Rupiah Dibayangi Geopolitik dan Defisit

Rupiah Dibayangi Geopolitik dan Defisit

7
0

JAKARTA, KITOUPDATE.COM – Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di bawah tekanan pada awal pekan ini, dipicu meningkatnya ketegangan global setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kegagalan putaran kedua dialog AS–Iran mendorong kenaikan harga minyak mentah sekaligus memperkuat dolar AS, sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah berpotensi melemah seiring naiknya harga minyak dan penguatan dolar akibat gagalnya negosiasi AS–Iran,” ujarnya.

Meski demikian, pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sempat menguat tipis 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.211 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.229 per dolar AS.

Dari sisi geopolitik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya menolak berunding di bawah tekanan, ancaman, maupun blokade. Ia menekankan bahwa kepercayaan menjadi syarat utama dialog, mengingat pengalaman negosiasi sebelumnya justru diiringi sanksi yang memperdalam ketidakpercayaan publik Iran.

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah masih terbebani oleh kekhawatiran defisit anggaran serta belum adanya sinyal kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia.

Meski begitu, BI dipastikan akan meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS. (Inku/net)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini