Beranda PALI Dari PALI, Jaranan Jawa Pandawa Mudo Mendunia

Dari PALI, Jaranan Jawa Pandawa Mudo Mendunia

400
0

PALI, KITOUPDATE.COM – Di tengah derasnya arus hiburan digital dan modernisasi, Paguyuban Seni Jaranan Jawa Pandawa Mudo memilih tetap berpijak pada akar budaya. Berbekal komitmen menjaga kemurnian musik tradisional Jawa, kelompok seni asal Kabupaten PALI, Sumatera Selatan ini terus membuktikan bahwa warisan leluhur masih mampu memikat hati masyarakat, bahkan mulai dikenal hingga mancanegara.

Di bawah kepemimpinan Bopo Dodo Wiadi, Pandawa Mudo konsisten mempertahankan iringan gamelan secara langsung menggunakan kendang, gong, kenong, saron, dan instrumen tradisional lainnya. Pilihan tersebut menjadi identitas sekaligus kekuatan utama yang menghadirkan pertunjukan jaranan yang autentik, sarat nilai budaya, dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Musik tradisional Jawa adalah ruh dari seni jaranan. Ketika digantikan dengan replika digital, kita kehilangan esensi, getaran, dan jiwa warisan leluhur. Kami ingin generasi muda mengenal suara budaya mereka yang sebenarnya,” ujar Bopo Dodo Wiadi.

Baginya, seni jaranan bukan sekadar hiburan, melainkan media untuk menjaga nilai-nilai filosofi, spiritualitas, dan identitas budaya. Karena itu, setiap penampilan Pandawa Mudo tetap mempertahankan pakem tradisi tanpa menghilangkan daya tarik bagi penonton masa kini.

Perpaduan gerak penari, tabuhan gamelan para wiyaga, serta nuansa ritual yang khas menjadikan setiap pementasan tampil megah namun tetap sakral. Konsistensi tersebut membuat Pandawa Mudo tidak hanya mendapat apresiasi masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian pegiat budaya, antropolog, hingga wisatawan mancanegara.

Keberhasilan lain yang patut diapresiasi adalah regenerasi pelaku seni. Mayoritas penabuh gamelan dan penari yang bergabung merupakan generasi muda yang bangga melestarikan budaya leluhurnya. Melalui pendekatan yang terbuka, Pandawa Mudo berhasil menghapus anggapan bahwa seni tradisional adalah kesenian yang kuno dan ditinggalkan zaman.

Pandawa Mudo berharap dukungan masyarakat dan pemerintah terus mengalir agar seni pertunjukan tradisional tetap hidup. Sebab, menjaga budaya bukan hanya tanggung jawab para seniman, tetapi menjadi tugas bersama untuk merawat jati diri bangsa di tengah perubahan dunia. (Anies)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini