JAKARTA, KITOUPDATE.COM — Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik terhadap struktur kabinet pemerintahannya yang sebelumnya dinilai terlalu besar atau “kabinet gemuk”. Untuk menjelaskan pilihannya, Prabowo membandingkan jumlah kabinet Indonesia dengan Timor Leste yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih sedikit.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada penutupan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8).
“Kabinet yang saya susun pernah dikatakan kabinet gemuk, tidak efisien,” kata Prabowo dalam sambutannya yang dikutip dari siaran resmi Sekretariat Presiden di Jakarta.
Prabowo mengatakan, ukuran dan kebutuhan struktur pemerintahan tidak bisa hanya dinilai dari jumlah kementerian. Menurut dia, jumlah penduduk serta luas wilayah merupakan faktor yang turut menentukan kompleksitas pemerintahan.
Ia kemudian mencontohkan Timor Leste yang memiliki populasi sekitar 1,1 juta jiwa.
“Ada negara Timor Leste yang jumlah penduduknya hanya satu juta. Lebih kecil dari banyak provinsi di Indonesia. Lebih kecil dari banyak kabupaten di Indonesia,” ujarnya.
Prabowo menyebut jumlah penduduk Timor Leste bahkan berada di bawah jumlah penduduk Kabupaten Bogor dan Kabupaten Banyuwangi.
Meski demikian, kata Prabowo, negara tersebut tetap memiliki jajaran kabinet dengan jumlah anggota yang cukup besar.
“Kabinetnya Timor Leste 28,” ungkapnya.
Perbandingan itu digunakan Prabowo untuk menggambarkan bahwa jumlah anggota kabinet tidak bisa dilepaskan dari konteks masing-masing negara. Indonesia memiliki populasi yang mendekati 300 juta jiwa, wilayah yang sangat luas, serta persoalan pemerintahan yang jauh lebih kompleks.
Namun, perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah anggota kabinet tidak serta-merta menjadi ukuran efisiensi pemerintahan. Efisiensi juga berkaitan dengan pembagian kewenangan, tumpang tindih fungsi antarkementerian, besaran anggaran, birokrasi, serta capaian program pemerintah.
Di sisi lain, Prabowo menyebut besarnya kabinet juga tidak terlepas dari konfigurasi politik pemerintahannya. Ia mengatakan pemerintahannya didukung koalisi besar yang mencakup mayoritas partai di parlemen.
“Pemerintah koalisi yang saya pimpin termasuk besar, tujuh partai dari delapan partai di parlemen,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penjelasan Prabowo atas desain kabinet yang dibentuknya. Meski demikian, ukuran kabinet pada akhirnya tetap akan diuji melalui efektivitas kerja, kecepatan pelayanan publik, koordinasi antarlembaga, serta kemampuan pemerintah menghasilkan kebijakan dan program yang berdampak bagi masyarakat. (**)



































