JAKARTA, KITOUPDATE.COM – Lonjakan penerimaan pajak sebesar 30,8 persen pada Januari 2026 menjadi amunisi awal pemerintah menjaga kesehatan fiskal. Purbaya Yudhi Sadewa optimistis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terkendali, bahkan berpotensi menyusut jika tren positif ini mampu dipertahankan.
“Hasil awal Januari tumbuh 30 persen dibanding tahun lalu. Kalau bisa kita jaga, itu sudah melampaui target APBN, defisit pasti turun,” kata Purbaya, dikutip dari Media Antara dalam forum Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Data Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak Januari mencapai Rp116,2 triliun atau 4,9 persen dari target Rp2.357,7 triliun. Secara total, penerimaan negara telah menyentuh Rp172,7 triliun hingga akhir Januari, tumbuh 9,8 persen secara tahunan.
Namun, optimisme itu bertumpu pada satu prasyarat besar: pertumbuhan ekonomi tidak boleh melambat.
Taruhan pada Pertumbuhan
Alih-alih menaikkan tarif pajak, Purbaya memilih menjaga daya beli dan ruang napas dunia usaha. Pemerintah bahkan menunda sejumlah kebijakan yang berpotensi menekan ekonomi, termasuk pajak daring dan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
“Saat ekonomi jatuh, pemerintah bukan mencekik, tapi memberi stimulus,” tegasnya.
Strategi yang ditempuh meliputi injeksi likuiditas ke perbankan, percepatan belanja pemerintah daerah, hingga pengurangan hambatan administratif bagi pelaku usaha. Dengan ekonomi bergerak lebih cepat, basis pajak diyakini ikut melebar tanpa perlu menaikkan tarif.
Langkah ini sekaligus menjadi pembeda pendekatan fiskal 2026, menjaga penerimaan lewat ekspansi ekonomi, bukan tekanan fiskal tambahan.
PR Pengawasan dan Kebocoran
Di sisi lain, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan itu juga membenahi internal kementeriannya, khususnya di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Fokusnya adalah menutup celah kebocoran dan meningkatkan kepatuhan.
Sebab, menjaga defisit bukan hanya soal mengejar target penerimaan, tetapi juga memastikan setiap rupiah benar-benar masuk ke kas negara.
Hingga 31 Januari 2026, realisasi penerimaan negara telah mencapai 5,5 persen dari target APBN Rp3.153,6 triliun. Capaian awal ini menjadi fondasi optimisme, meski tantangan global, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan eksternal masih membayangi.
Kini, pertanyaannya: mampukah momentum Januari dijaga sepanjang tahun? Jika iya, defisit 2026 berpeluang lebih terkendali. Jika tidak, ruang fiskal bisa kembali tertekan. (E. Saputra)
































