SUMBAWA, KITOUPDATE.COM — Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk mencegah tanaman padi mengalami gagal panen, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyalurkan 25 ribu liter air irigasi untuk menyelamatkan persawahan seluas 18,6 hektare.
Air tersebut disalurkan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram ke Daerah Irigasi (DI) Mamak, Desa Hijrah, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa.
Distribusi dilakukan menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter sebanyak lima kali perjalanan. Air kemudian digunakan untuk menyiram areal persawahan yang mengalami kekeringan dan berada dalam kondisi rentan gagal panen.
Sebanyak 40 petani yang menggarap tanaman padi pada Musim Tanam (MT) II menjadi penerima manfaat. Saat distribusi dilakukan, usia tanaman padi rata-rata telah mencapai sekitar 70 hari.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemerintah terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap dampak kekeringan, khususnya untuk menjaga keberlanjutan layanan irigasi bagi masyarakat.
“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, optimalisasi infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu langkah penting agar ketersediaan air yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk sektor pertanian.
DI Mamak sendiri memiliki luas layanan sekitar 3.800 hektare, dengan sumber utama air berasal dari Bendungan Mamak. Namun, kondisi kekeringan membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian perlu mendapat penanganan ekstra.
Untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan, BBWS Nusa Tenggara I juga mengupayakan alternatif sumber air melalui Sungai Lape. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memompa air buangan irigasi untuk kembali dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
BBWS Nusa Tenggara I memastikan distribusi air akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi dan ketersediaan sumber air.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempertahankan tanaman padi yang masih dapat diselamatkan sekaligus menekan potensi kerugian petani akibat kekeringan. (Ant/**)



































