Beranda Ogan Kemering Ilir 57 Titik Blankspot, OKI Percepat Penanganan

57 Titik Blankspot, OKI Percepat Penanganan

19
0

OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mempercepat pengentasan wilayah tanpa sinyal (blankspot) melalui kolaborasi intensif dengan operator telekomunikasi, seiring meningkatnya kebutuhan internet sebagai layanan dasar masyarakat.

Langkah ini dibahas dalam rapat koordinasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) OKI, Selasa (14/4), di Kantor Bupati OKI. Upaya tersebut merupakan tindak lanjut Misi ke-4 Bupati dan Wakil Bupati OKI yang menitikberatkan penguatan ekonomi berbasis digital, termasuk pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, sekaligus mendukung agenda nasional pemerataan infrastruktur digital.

Data Pemkab OKI menunjukkan tantangan konektivitas masih signifikan. Dari total wilayah seluas 17.071,33 km² yang mencakup 18 kecamatan dan 327 desa/kelurahan, terdapat 57 titik blankspot. Kualitas jaringan pun didominasi 4G lemah sekitar 75 persen, sementara wilayah dengan 4G relatif stabil baru mencapai 15 persen.

Kondisi geografis yang luas dan sulit dijangkau, ditambah 15 desa yang belum teraliri listrik, menjadi hambatan utama. Di sisi lain, minat operator untuk membangun infrastruktur di wilayah berpenduduk minim juga masih terbatas karena pertimbangan keekonomian.

Kepala Diskominfo OKI, Adi Yanto, menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah strategis, termasuk validasi data bersama operator agar intervensi tepat sasaran.

“Kami memastikan data lapangan akurat agar penanganan blankspot efektif,” ujarnya.

Prioritas penanganan difokuskan pada layanan publik. Konektivitas di sekolah, puskesmas, dan kantor desa didorong menjadi prioritas agar pelayanan masyarakat tidak terganggu.

Sebagai solusi, Pemkab OKI bersama Telkomsel menjalankan program Internet Gotong Royong (IGR), yakni skema kolaboratif antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan penyedia layanan.

Dalam skema ini, pemerintah memfasilitasi regulasi dan koordinasi, operator membangun jaringan, sementara pemerintah desa menyediakan lokasi serta dukungan infrastruktur. Pendekatan ini membuat wilayah yang sebelumnya tidak layak secara bisnis menjadi lebih feasible untuk dijangkau.

Program tersebut mulai menunjukkan progres. Hingga kini, delapan desa telah keluar dari blankspot melalui IGR, yakni Desa Balian (Mesuji Raya), Karya Mukti (Mesuji), Suka Mulya (Lempuing), Panca Tunggal Benawa dan Kuripan (Teluk Gelam), Pulau Geronggang (Pedamaran Timur), Deling (Pangkalan Lampam), serta Pematang Binatani (Mesuji Makmur).

Asisten III Setda OKI, Hj Nursula, menegaskan akses internet kini telah bertransformasi menjadi kebutuhan dasar.

“Internet bukan lagi kebutuhan tambahan, tetapi fondasi pelayanan publik, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar penanganan blankspot berjalan komprehensif dan tepat sasaran.

Selain itu, Pemkab OKI turut menyoroti penataan kabel jaringan provider yang masih semrawut di sejumlah titik. Kabel yang menjuntai hingga ke tanah dinilai membahayakan pengguna jalan.

“Penertiban akan dilakukan bersama provider agar jaringan lebih tertib dan aman,” kata Nursula. (Rico)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini