KITOUPDATE.COM – Berbagai platform media sosial seperti Instagram, X, dan TikTok memiliki beragam konten dari berbagai genre, seperti pendidikan, komedi, horor, dan lain-lain, termasuk konten bernuansa sarkasme. Sering dijumpai konten meme berupa gambar ataupun video yang dijadikan bahan lelucon, baik dari makhluk hidup maupun objek benda mati, lalu diberikan teks singkat sebagai penjelasan konteks. Konten seperti ini banyak digemari oleh netizen dan mendapatkan engagement yang tinggi.
Meme merupakan konten sederhana berupa gambar atau video yang berisi keterangan singkat di dalamnya. Salah satu bentuk meme yang sering muncul adalah meme yang menggambarkan tingkah laku perempuan lalu diberi keterangan “woman”, serta ditambahkan emoji atau video seseorang meminum secangkir kopi yang diakhiri dengan tawa. Konten seperti ini sekilas terlihat lucu karena bersifat menghibur dan ringan untuk diterima. Namun, apabila dilihat lebih spesifik, fenomena meme ini memperlihatkan bagaimana media digital menampilkan stereotipe terhadap kaum perempuan.
Berdasarkan meme “woman”, sosok perempuan digambarkan sebagai manusia yang bersifat emosional, ribet, denial, egois, dan sulit dipahami. Sementara itu, sosok laki-laki digambarkan sebagai manusia yang lebih sederhana, rasional, dan logis. Representasi gender seperti ini sebenarnya sudah lama hadir melalui media tradisional, seperti iklan, film, sinetron, dan majalah, yang membentuk citra serupa. Hanya saja, di era digital saat ini, representasi tersebut dikemas kembali secara singkat dan menghibur.
Meme “woman” selain memberikan hiburan juga menunjukkan adanya stereotipe terhadap perempuan yang identik dengan sikap penuh drama dan denial, sementara stereotipe terhadap laki-laki digambarkan sebagai pihak yang dirugikan atau selalu berada di posisi yang benar. Fenomena ini mencerminkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan kedua gender. Komedi menjadi salah satu metode hiburan untuk menertawakan pengalaman, namun di sisi lain juga berpotensi memunculkan seksisme terhadap gender tertentu.
Kebanyakan akun meme di media sosial dikelola oleh laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari konten meme yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek komedi untuk ditertawakan, dengan narasi yang disusun berdasarkan persepsi laki-laki terhadap perempuan sebagai bahan lelucon.
Banyak audiens yang mengonsumsi konten meme, baik laki-laki maupun perempuan, dari usia muda hingga tua. Dalam menyikapi meme “woman” tersebut, ada kelompok audiens yang bersifat pasif dengan hanya melihat dan mengabaikannya, serta ada pula kelompok aktif yang menanggapi dengan berkomentar bahkan membuat thread panjang untuk mempertentangkan isu tersebut.
Komedi memang disukai oleh banyak orang, tetapi tidak semua bentuk komedi dapat diterima oleh setiap individu. Sebagai penyedia konten, diperlukan sikap yang lebih berhati-hati serta mempertimbangkan dampak dari konten yang dibuat. Sementara itu, sebagai audiens, kita juga perlu memahami dan menyikapi secara kritis isi konten yang diterima melalui berbagai media sosial.
Nama : M. Dava Restu Ramandha
Universitas Bina Darma



































