JAKARTA, KITOUPDATE.COM – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menilai tren inflasi bulanan di tiga provinsi terdampak bencana mulai menunjukkan perbaikan, seiring pulihnya distribusi barang dan jasa pascagangguan infrastruktur.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin, Tito menyebut stabilnya pasokan menjadi indikator utama keberhasilan upaya normalisasi yang dilakukan pemerintah di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
“Artinya, langkah normalisasi yang dilakukan cukup efektif. Distribusi mulai lancar dan suplai barang sudah kembali masuk,” ujarnya.
Data menunjukkan, inflasi bulanan di Sumatera Barat dan Aceh masing-masing tercatat sebesar 0,04 persen, sementara Sumatera Utara justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Angka ini menjadi kontras dengan kondisi sebelumnya, ketika inflasi tahunan sempat melonjak akibat terganggunya jalur distribusi, termasuk akses jalan yang terputus.
Perbaikan pada indikator bulanan ini memperlihatkan bahwa pemulihan infrastruktur dan logistik mulai berdampak langsung pada stabilitas harga di lapangan. Namun, kondisi tersebut juga menegaskan bahwa tekanan inflasi di wilayah terdampak sangat sensitif terhadap kelancaran distribusi.
Tito menekankan pentingnya menjaga momentum pemulihan dengan memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta memperketat pemantauan terhadap komponen penyumbang inflasi, khususnya bahan pokok.
Ia juga menyoroti bahwa inflasi bulanan (month to month) lebih relevan sebagai alat kendali kebijakan dibandingkan inflasi tahunan (year on year), yang cenderung bersifat agregat.
“Inflasi tahunan penting untuk gambaran makro, tapi untuk pengendalian harga, indikator bulanan lebih mencerminkan kondisi riil,” tegasnya.
Secara nasional, tren inflasi juga menunjukkan penurunan, dari 4,76 persen menjadi 3,48 persen (year on year). Sementara inflasi bulanan melandai dari 0,68 persen menjadi 0,41 persen.
Penurunan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya normalisasi tarif listrik serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur panjang dan hari raya, yang berdampak pada kelompok pengeluaran seperti makanan, minuman, dan transportasi.
Meski demikian, stabilitas ini masih bergantung pada konsistensi distribusi dan daya tahan pasokan, terutama di daerah yang rentan terhadap gangguan infrastruktur. (Ant/**)






























