OKU TIMUR, KITOUPDATE.COM – Ratusan hektare lahan pertanian di wilayah Belitang dan sekitarnya mengalami kekeringan akibat ditutupnya akses air irigasi dalam rangka perbaikan saluran. Kondisi tersebut mengancam tanaman padi, jagung, hingga tambak ikan milik petani mengalami gagal panen.
Penutupan akses air di saluran irigasi 4 BK 16 dilakukan sebagai bagian dari proyek perbaikan jaringan irigasi. Akibatnya, pasokan air ke lahan pertanian terhenti sehingga tanaman padi terancam mati karena kekurangan air.
Untuk mempertahankan tanaman padi, sejumlah petani berinisiatif melakukan penyedotan air ke sawah. Namun, upaya tersebut dinilai tidak efektif karena luas lahan yang harus diairi mencapai ratusan hektare, sementara pasokan air dari sumur bor tidak mencukupi.
Kondisi ini mendorong sejumlah petani dan kelompok tani dari Desa Sri Jaya, Tanjung Kemuning, Kemuning Jaya, Raman Jaya, Margomulyo, serta sejumlah desa lainnya menggelar pertemuan untuk mencari solusi agar tanaman mereka tidak mengalami gagal panen.
“Banyak dampak dari pengeringan saluran irigasi ini. Di sektor pertanian mengakibatkan gagal panen, sektor kesehatan membuat sumur rumah tangga kering, hingga sektor ekonomi membuat banyak pelaku UMKM dan usaha kecil tidak dapat berproduksi,” terang Ramon, salah satu perwakilan warga, saat melakukan pertemuan dengan Ketua Komisi II DPRD OKU Timur Andi Syaiban Hidayat, didampingi anggota DPRD lainnya, I Ketut Budiyasa dan Ponco Joko Kustanto.
Dampak lain dari pengeringan saluran irigasi tersebut adalah meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan petani untuk menyedot air ke sawah. Petani harus membeli solar, sementara ketersediaan bahan bakar tersebut saat ini juga sulit diperoleh. Penggunaan gas LPG sebagai alternatif pun berpotensi menambah persoalan karena dapat menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga LPG.
“Dari hasil kesepakatan kami, meminta pihak balai besar membuka aliran irigasi atau air resapan untuk mengairi sawah kami. Harus ada rekayasa konstruksi di pintu bagi air agar air tetap bisa mengalir, walaupun tidak semua sawah terairi. Kami mau menyedot air, tetapi yang mau disedot sudah habis,” tambah Ramon.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD OKU Timur Andi Syaiban Hidayat mengatakan, dampak pengeringan saluran irigasi juga berimbas terhadap kebutuhan gas LPG 3 kilogram.
“Kami meminta penutupan diatur, misalnya tiga hari ditutup dan satu hari dibuka, agar sawah tidak mengalami kekeringan. Bukan hanya tanaman padi, tanaman jagung juga ikut kering,” ujar politisi Partai Golkar tersebut.
Menanggapi keluhan para petani, Ketua Unit Pengelola Irigasi BBWSS VIII Tulus Iswanto mengatakan, selain akibat pengeringan saluran, kondisi kekeringan juga dipengaruhi musim kemarau yang sedang berlangsung.
“Solusinya kita melakukan semacam giliran. Air yang sedikit bisa dibagi secara merata. Dalam pengerjaan, kita memang tidak menutup mati saluran demi mendukung ketahanan pangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan membantu petani dengan membuka kembali saluran serta memberikan bantuan untuk biaya penyedotan air ke sawah.
“Pembukaan saluran akan dibagi, tiga hari dibuka di bagian hulu dan empat hari di bagian hilir. Jika masih kekurangan, nanti bisa dikoordinasikan dengan petugas pintu debit air yang ada di lapangan,” pungkasnya. (Dadang Dinata)



































