BANDUNG, KITOUPDATE.COM — Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada aktivitas pendidikan di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring bagi sekolah sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik dan warga satuan pendidikan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap paparan material vulkanik, khususnya abu yang berpotensi mengganggu kesehatan.
“PJJ diberlakukan dengan tujuan melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan,” kata Dedi di Bandung, Senin.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang diterbitkan pada Minggu (6/9). Para kepala sekolah juga diinstruksikan segera menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka dan seluruh aktivitas luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.
Tak hanya sektor pendidikan, Pemprov Jabar juga meningkatkan kesiapsiagaan di bidang kesehatan. Posko dan lokasi pengungsian disiapkan, sementara puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak abu vulkanik.
Dedi menginstruksikan Dinas Kesehatan memastikan ketersediaan tenaga medis, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker atau respirator hingga alat pelindung diri (APD).
Pemantauan kesehatan masyarakat juga diperketat. Dinas Kesehatan diminta melakukan surveilans harian terhadap kasus gangguan pernapasan, iritasi mata, penyakit kulit, cedera maupun dampak kesehatan lainnya.
Kelompok Rentan Jadi Prioritas
Perlindungan khusus diarahkan kepada kelompok rentan, mulai dari bayi, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan hingga masyarakat dengan penyakit kronis.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup diminta memantau kualitas udara, terutama parameter PM2,5 dan PM10, bersama BMKG dan BPBD. Informasi mengenai kondisi udara juga akan disampaikan secara berkala kepada masyarakat.
Penanganan abu vulkanik di jalan dan fasilitas umum turut menjadi perhatian. Pemprov Jabar mengarahkan pembersihan dilakukan dengan metode basah, seperti penyiraman air, agar partikel abu tidak kembali beterbangan dan terhirup masyarakat.
Selama abu vulkanik masih terdeteksi, kesiapsiagaan terhadap keselamatan lalu lintas juga ditingkatkan.
Dedi meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi risiko.
“Ikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah, terutama di wilayah dengan intensitas sebaran abu yang tinggi.
Jika harus keluar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker, terutama KN95 atau masker lain yang menutup hidung dan mulut dengan baik. Kacamata juga disarankan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik.
Warga yang terpapar abu diminta segera membersihkan diri. Abu di rumah, fasilitas umum maupun lingkungan sekitar sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar tidak beterbangan.
Dedi juga mengingatkan masyarakat segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, nyeri dada, iritasi mata, gangguan kulit atau gejala berat lainnya setelah terpapar abu vulkanik.
Selain itu, sumber air dan makanan diminta ditutup serta dilindungi agar tidak terkontaminasi abu vulkanik. (Ant/**)



































