Beranda Ogan Kemering Ilir Kenali Gulma di Kebun Sawit: Mana yang Merugikan, Mana yang Justru Menguntungkan

Kenali Gulma di Kebun Sawit: Mana yang Merugikan, Mana yang Justru Menguntungkan

258
0

OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Tidak semua gulma di perkebunan kelapa sawit harus dibasmi. Sebagian memang menjadi ancaman serius bagi produktivitas tanaman, namun sebagian lainnya justru berperan menjaga keseimbangan ekosistem kebun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten OKI, Dedy Kurniawan, S.STP,. M.Si yang bertujuan untuk berbagi informasi dan motivasi bagi para petani sawit yang ada di Kabupaten OKI.

Ia mengingatkan bahwa pemeliharaan kebun sawit saat ini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan pengendalian kimia. Di banyak kebun, pengendalian gulma telah bergeser ke pendekatan mekanis dan selektif, dengan tujuan menjaga organisme tanah serta tidak merusak keseimbangan hayati di sekitar tanaman.

“Yang perlu dipahami para pekebun adalah, gulma mana yang benar-benar membahayakan tanaman sawit dan mana yang sebenarnya tidak perlu dikendalikan secara agresif,” ujar Dedy. Selasa (03/02/2026).

Menurut Dedy, gulma paling berbahaya bagi kelapa sawit adalah alang-alang. Gulma ini memiliki akar rimpang yang kuat dan mampu mengeluarkan senyawa eksudat yang mengganggu pertumbuhan tanaman di sekitarnya. Jika alang-alang sudah muncul di kebun, pengendalian menjadi keharusan.

“Karena sifat perakarannya, alang-alang harus dikendalikan dengan herbisida sistemik. Jika tidak, ia akan cepat menyebar dan menurunkan produktivitas sawit,” jelas Dedy.

Gulma merugikan lain yang perlu diwaspadai adalah gulma berdaun sempit seperti Dicanthium linearis, yang sering menjadi indikator kondisi tanah miskin unsur hara, terutama fosfat. Ciri khasnya adalah warna keunguan pada daun, yang menandakan rendahnya kandungan bahan organik tanah.

Selain itu, anakan kayu berakar tunggang seperti Clidemia hirta dan Melastoma malabathricum juga dinilai berbahaya. Gulma jenis ini bersaing langsung dengan tanaman sawit dalam menyerap air dan unsur hara, sehingga perlu dikendalikan menggunakan herbisida yang bekerja pada jaringan kambium.

Di sisi lain, Dedy juga menekankan bahwa tidak semua gulma harus dibersihkan. Beberapa jenis gulma justru dapat menjadi “teman” bagi tanaman sawit. Contohnya kelompok bayam-bayaman yang tumbuh di luar piringan pokok. Selama tidak menutup zona perakaran utama, gulma ini dapat membantu menjaga kelembapan tanah.

Gulma lain yang dinilai bermanfaat adalah pakis Nephrolepis biserrata. Tanaman ini bersifat epifit, akarnya tidak menembus jaringan pohon sawit, dan hanya menumpang hidup. Keberadaannya membantu menjaga kelembapan mikro dan mengurangi erosi tanah.

“Gulma itu ada di mana-mana, tapi tidak semuanya merugikan. Beberapa justru membantu pekebun menjaga kondisi kebun agar lebih seimbang dan produktif,” ungkap Dedy.

Dedy menegaskan, kunci pengelolaan gulma di perkebunan kelapa sawit adalah pemahaman dan selektivitas.

“Pengendalian tidak harus dilakukan secara menyeluruh, melainkan difokuskan pada gulma yang benar-benar mengganggu pertumbuhan dan produksi” tegas Dedy.

Ia pun berharap kepada para pekebun agar benar-benar memanfaatkan kemajuan teknologi yang dizaman modern seperti sekarang ini.

“Dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini, semuanya bisa diakses kolaborasi antara pengalaman dan akses informasi sangatlah penting, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal bagi para petani sawit yang ada di Kabupaten OKI” tutup Dedy. (Hendri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini