Beranda Ogan Kemering Ilir 537 Hotspot Terdeteksi di OKI, Kabut Asap Mulai Selimuti Sejumlah Wilayah

537 Hotspot Terdeteksi di OKI, Kabut Asap Mulai Selimuti Sejumlah Wilayah

83
0

OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali menjadi daerah dengan titik panas atau hotspot terbanyak di Sumatera Selatan. Dalam pemantauan 24 jam terakhir, sebanyak 537 hotspot terdeteksi di wilayah OKI.

Data tersebut berdasarkan pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan yang diperbarui Minggu (23/8/2026) pukul 06.00 WIB.

Dari 537 titik panas tersebut, 388 hotspot berada di wilayah mineral, sedangkan 149 titik lainnya terdeteksi di kawasan gambut.

Jumlah ini menempatkan OKI jauh di posisi teratas dibandingkan daerah lain di Sumatera Selatan. Musi Banyuasin berada di urutan kedua dengan 344 hotspot, disusul Muara Enim 237 titik dan Banyuasin 168 titik.

Jika dibandingkan dengan total 1.742 hotspot di Sumatera Selatan, titik panas di OKI menyumbang sekitar 31 persen dari keseluruhan hotspot yang terdeteksi.

Tingginya jumlah hotspot tersebut mulai dirasakan masyarakat. Kabut asap dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah OKI pada Minggu (23/8) pagi, membuat jarak pandang di sejumlah lokasi tampak berkabut.

Kondisi tersebut juga terlihat dari sejumlah unggahan masyarakat di media sosial yang memperlihatkan beberapa wilayah kecamatan di OKI diselimuti kabut asap sejak pagi hari.

Munculnya kabut asap di tengah tingginya jumlah hotspot membuat kekhawatiran warga kembali meningkat. Terlebih, 149 titik panas terdeteksi berada di kawasan gambut, yang apabila terbakar berpotensi menghasilkan asap pekat dan sulit dipadamkan.

Plt Kepala BPBD OKI Nova Triyussanto, S.Kom., M.Si., mengatakan jumlah hotspot yang terpantau hari ini memang lebih banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Menurutnya, kabut asap yang muncul pada pagi hari ini berkaitan dengan kebakaran lahan yang masih berlangsung dan belum sepenuhnya padam.

“Hari ini tercatat lebih banyak hotspot dibanding hari-hari sebelumnya. Kabut asap yang muncul pagi ini disebabkan kebakaran lahan yang belum padam,” jelas Nova.

Ia mencontohkan kebakaran lahan yang terjadi pada Sabtu (22/8) malam di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur, yang turut menjadi salah satu sumber asap.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, kata Nova, upaya pemadaman terus dilakukan oleh Satgas Darat gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), RPK dan BPBD OKI.

Selain melalui jalur darat, penanganan juga dilakukan dari udara melalui koordinasi dengan Satgas Udara, termasuk patroli dan water bombing.

Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala serius. Pasokan air untuk pemadaman mulai terbatas karena kanal dan embung yang selama ini menjadi sumber air di lokasi kebakaran mulai mengering.

“Kendala yang dihadapi sekarang minimnya pasokan air untuk pemadaman, karena air yang berada di kanal maupun embung untuk pemadaman di lokasi kejadian sudah mulai mengering,” ujarnya.

Sebelumnya, karhutla juga masih terjadi di sejumlah wilayah OKI, di antaranya Tulung Selapan, Tanjung Lubuk, Pedamaran Timur dan Pangkalan Lampam.

Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di OKI masih cukup tinggi. Lonjakan hotspot, munculnya kabut asap hingga terbatasnya sumber air menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan di lapangan.

Masyarakat berharap setiap titik panas yang terdeteksi dapat segera diverifikasi dan ditangani, terutama titik yang berada di kawasan gambut. Warga juga mengharapkan langkah cepat pemerintah dan instansi terkait untuk mencegah kabut asap semakin meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat. (Eko Saputra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini