PALI, KITOUPDATE.COM – Kemeriahan lomba gerak jalan dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menyisakan cerita lain di balik riuhnya sorak-sorai masyarakat.
Di sepanjang kawasan yang menjadi lokasi kegiatan, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya emak-emak pedagang kecil, mengaku harus menghadapi dilema akibat sepinya pembeli setelah rangkaian gerak jalan berakhir.
Pemberlakuan pengaturan zona perdagangan dan sterilisasi sejumlah ruas jalan protokol oleh Pemerintah Kabupaten PALI memang membuat pelaksanaan kegiatan berlangsung lebih tertib dan lalu lintas lebih terkendali. Namun, bagi sebagian pedagang, kebijakan tersebut juga berdampak terhadap akses mereka menjangkau konsentrasi penonton.
Akibatnya, sejumlah pedagang masih menyisakan banyak dagangan ketika kerumunan masyarakat mulai meninggalkan lokasi.
Sekitar pukul 12.50 WIB, setelah peserta terakhir melintas, suasana di sejumlah ruas jalan mulai kembali sepi. Penonton perlahan meninggalkan lokasi, sementara sejumlah pedagang masih bertahan dengan dagangan yang belum terjual.
Bagi pedagang yang menggunakan modal pinjaman atau berutang kepada pemasok, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri. Mereka khawatir dagangan yang tidak habis terjual akan menimbulkan kerugian, terutama untuk makanan dan minuman yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama.
Salah seorang pedagang mengungkapkan kekecewaannya karena aktivitas jual beli yang diperkirakan berlangsung hingga sore ternyata berakhir lebih cepat.
“Terima kasih banyak, hari ini gacor. Jam 12.50 WIB gerak jalan sudah habis, tapi jualan belum habis. Terima kasih, Pak Bupati, untuk aturan yang ado. Lanjutkan aturannya yang tidak diperbolehkan galo. Dagangan masih banyak, nak dibayar galo,” ujarnya sambil menunjukkan sisa dagangannya.
Pedagang lainnya mengaku membawa lebih banyak stok karena memperkirakan keramaian akan berlangsung hingga sore hari.
“Kami pedagang kecil, Mbak. Terpuruk nian. Lah banyak bawa dagangan, perkiraan kami sampai sore. Cak mano dagangan ini? Basi kalau dak habis dijual, besok lagi dak biso,” keluhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lain yang berjualan di sekitar kawasan TK Bhayangkari.
“Mak mano lah sepi nian jalan, jualan masih untap galo. Tau dewek kami ni jualan modal, cak mano dak habis pulo. Ngapolah tahun ini cak ini. Belum jam 12, nah kami di depan TK Bhayangkari ini lah sepi nian.”
Keluhan para pedagang tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan kegiatan besar daerah. Di satu sisi, pemerintah membutuhkan pengaturan untuk memastikan keamanan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas. Di sisi lain, kegiatan yang menghadirkan ribuan masyarakat juga menjadi momentum ekonomi bagi pedagang kecil.
Kegiatan gerak jalan dalam rangka peringatan HUT RI sejatinya tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal.
Karena itu, para pedagang berharap penataan kawasan pada kegiatan serupa di masa mendatang dapat mempertimbangkan keberlangsungan usaha kecil yang menggantungkan pendapatan dari keramaian acara.
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah penyediaan zona khusus UMKM yang tetap berada dalam jangkauan penonton, namun tidak mengganggu jalur utama kegiatan maupun arus lalu lintas.
Selain itu, pedagang juga berharap adanya evaluasi terhadap durasi kegiatan dan pola pengaturan keramaian agar peluang transaksi bagi pelaku UMKM tidak berakhir terlalu cepat.
Beberapa aspirasi yang disampaikan pedagang antara lain:
1. Penyediaan zona UMKM yang strategis
Pemerintah dapat menyediakan kantong-kantong UMKM yang mudah diakses masyarakat, tetapi tetap berada di luar jalur utama kegiatan.
2. Pengaturan durasi kegiatan
Pedagang berharap rangkaian kegiatan dapat berlangsung lebih lama sehingga perputaran ekonomi di sekitar lokasi juga memiliki waktu yang lebih panjang.
3. Pendampingan dan akses permodalan
Pelaku UMKM juga membutuhkan akses permodalan yang lebih aman dan terjangkau agar tidak terlalu bergantung pada pinjaman dengan beban pembayaran tinggi.
Kemeriahan gerak jalan PALI 2026 pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari kelancaran acara dan tertibnya lalu lintas. Ada pula sisi ekonomi masyarakat kecil yang perlu diperhatikan.
Bagi para emak-emak pedagang, keramaian bukan sekadar tontonan. Di balik lapak sederhana dan dagangan yang mereka bawa, terdapat modal yang harus kembali, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, serta utang yang harus dibayar.
Karena itu, evaluasi terhadap pengaturan kegiatan diharapkan dapat menghasilkan pola yang mampu menjaga keseimbangan antara ketertiban acara dan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil.
Dengan begitu, kemeriahan kegiatan daerah tidak hanya meninggalkan kenangan bagi penonton, tetapi juga membawa hasil bagi pedagang UMKM yang ikut menggantungkan harapan pada setiap keramaian. (Anies)



































