PALI, KITOUPDATE.COM – Di tengah derasnya spekulasi dan kritik pasca-penahanan Wakil Bupati PALI Iwan Tuaji oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, keberadaan Bupati PALI Asgianto sempat menjadi tanda tanya publik.
Minimnya kemunculan di ruang publik memunculkan berbagai asumsi. Sebagian kalangan bahkan menuding orang nomor satu di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) itu memilih menghindar di tengah situasi yang sedang bergejolak.
Namun fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Saat berbagai opini berkembang di daerah, Asgianto ternyata tengah berada di Jakarta menjalankan misi strategis untuk membuka sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru yang berpotensi bernilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah setiap tahun.
Informasi tersebut terungkap dalam agenda audiensi antara Pemerintah Kabupaten PALI bersama BUMD PT Pali Anugerah Sejahtera (Perseroda) dengan jajaran manajemen PT Pertamina Hulu Rokan Regional 1 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Pertemuan tersebut membahas percepatan pemanfaatan sumur minyak idle well atau sumur minyak tidak aktif yang tersebar di wilayah Kabupaten PALI agar dapat segera dikelola sesuai regulasi terbaru Kementerian ESDM.
Audiensi strategis itu turut didampingi Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Pasha. Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup PALI Aryansyah, Kepala Bagian Ekonomi Setda PALI, serta jajaran komisaris dan direksi PT PAS.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup PALI Aryansyah menegaskan bahwa Bupati Asgianto tidak sedang menghilang sebagaimana tudingan yang berkembang.
“Bukan menghilang, tetapi bergerak secara silent untuk mendapatkan sumber-sumber PAD bagi Kabupaten PALI,” tegas Aryansyah saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini fokus mendorong percepatan pengelolaan puluhan sumur minyak yang selama ini tidak produktif. Sebagian telah memasuki tahap kesepakatan, sementara sejumlah lainnya sedang menjalani proses verifikasi.
Langkah tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi peningkatan pendapatan daerah di tengah tantangan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah daerah.
“Potensi PAD dari sumur-sumur yang akan dikelola ini diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per tahun,” ungkap Aryansyah.
Pasca-pertemuan tersebut, proses pembukaan data dan penyusunan skema kerja sama disebut segera dilakukan. Tahapan itu akan dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak kerja sama sebagai dasar pengelolaan sumur-sumur idle well oleh daerah melalui BUMD.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai target, program tersebut diharapkan mulai terealisasi sebelum akhir tahun.
Selain berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, optimalisasi sumur minyak tidur juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, membuka peluang usaha baru, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat PALI.
Di tengah kritik dan spekulasi yang berkembang, langkah Asgianto menunjukkan bahwa pemerintah daerah tengah berupaya mencari solusi konkret bagi masa depan PALI. Alih-alih sibuk menjawab polemik di ruang publik, ia memilih bergerak di tingkat pusat untuk membuka peluang ekonomi baru yang dapat memperkuat ketahanan fiskal daerah. (Anies)
































