OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Membesarkan dan mendidik anak di era digital seperti saat ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat membawa dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi, teknologi membuka akses ilmu pengetahuan yang luas, memudahkan proses belajar, serta memperlancar komunikasi.
Namun di sisi lain, arus informasi yang tidak terbendung, paparan konten negatif seperti pornografi, judi daring, ujaran kebencian, hingga lunturnya batas etika dan norma di media sosial, menjadi ancaman nyata yang mengintai anak-anak setiap detiknya.
Hal tersebutlah yang disampaikan secara tegas oleh Ustadz Mahdi Imron dalam salah satu kajiannya. Menurutnya, kondisi ini sering kali menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para orang tua Muslim.
“Sering kali timbul pertanyaan di hati, apakah fondasi iman dan akhlak anak-anak kita cukup kuat untuk bertahan menghadapi derasnya arus tantangan zaman ini?” ujar Ustadz Mahdi. Sabtu (20/06/2026).
Ia melanjutkan, sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa anak adalah amanah suci yang dititipkan Allah SWT sekaligus menjadi tabungan bekal yang paling berharga di kehidupan akhirat kelak.
“Agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berilmu, dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama, diperlukan strategi mendidik yang selaras dengan nilai-nilai Islam namun tetap relevan dengan kondisi masa kini” jelas Ustadz Mahdi.
Berikut adalah langkah-langkah mendasar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Tanamkan Tauhid dan Akidah Sejak Usia Dini sebagai Fondasi Utama
Sebelum mengajarkan anak membaca, berhitung, atau mengoperasikan teknologi, hal paling utama yang harus ditanamkan ke dalam hati dan pikirannya adalah pengenalan kepada Allah SWT, yaitu tauhid. Inilah pondasi yang akan menjadi benteng paling kokoh saat mereka menghadapi berbagai godaan dan tantangan di kemudian hari.
Contoh terbaik mengenai hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, pada nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.”
— QS. Luqman: 13
Cara praktis menerapkannya:
– Kenalkan kebesaran dan kebaikan Allah melalui apa yang mereka lihat sehari-hari. Misalnya saat turun hujan, tumbuhnya tanaman, atau terbitnya matahari, jelaskan bahwa itu semua adalah ciptaan dan karunia Allah.
– Biasakan anak untuk memulai segala aktivitas dengan menyebut nama Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, bahkan dalam urusan yang terasa sederhana sekalipun.
2. Jadikan Keteladanan sebagai Senjata Paling Efektif
Anak pada dasarnya adalah peniru yang ulung, bukan sekadar pendengar yang patuh. Mereka cenderung meniru apa yang dilihat dan dialami, bukan hanya apa yang didengar dari nasihat semata. Jika orang tua hanya melarang tanpa memberi contoh nyata, pesan yang disampaikan akan sulit tertanam dalam hati anak.
Dalam menghadapi pengaruh lingkungan dan tontonan yang kurang mendidik, keteladanan di rumah menjadi penyeimbang utama. Jika ingin anak membatasi waktu bermain gawai, maka orang tua pun harus mengurangi penggunaan ponsel saat berkumpul bersama keluarga.
“Jika ingin anak rajin melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an, maka mereka harus sering melihat orang tuanya mendirikan ibadah tersebut secara rutin dan ikhlas” jelas Ustadz Mahdi.
3. Manfaatkan Teknologi dengan Pengawasan dan Kesepakatan
Islam tidak melarang umatnya menggunakan kemajuan teknologi, bahkan menganjurkan untuk memanfaatkannya demi kebaikan. Namun, Islam sangat menekankan kewajiban menjaga diri dan keluarga dari segala hal yang dapat merusak akidah, akhlak, dan kesehatan. Membiarkan anak mengakses dunia maya tanpa batasan dan pengawasan adalah bentuk kelalaian terhadap amanah yang Allah berikan.
Langkah yang bisa dilakukan:
– Buatlah perjanjian bersama anak mengenai waktu penggunaan gawai atau yang disebut Screen Time Agreement. Tentukan kapan mereka boleh menggunakannya dan kapan waktu harus bebas dari gawai, misalnya mulai menjelang salat Maghrib hingga usai kegiatan malam.
– Arahkan fungsi gawai untuk hal yang bermanfaat. Jadikan alat tersebut sarana menghafal Al-Qur’an, menonton kisah para nabi, mempelajari sejarah Islam, atau menambah wawasan ilmu pengetahuan umum, bukan hanya untuk bermain gim semata.
4. Utamakan Adab Sebelum Ilmu Pengetahuan
Di tengah gempuran informasi yang melimpah, sering kali kita menjumpai anak yang cerdas secara intelektual namun kurang memiliki adab. Kepintaran tanpa dilandasi akhlak yang baik justru dapat melahirkan perilaku buruk seperti suka merundung, berkata kasar, menyebarkan berita bohong, hingga tidak menghormati orang tua dan sesama.
Oleh sebab itu, para ulama dan pendidik Islam sejak zaman dahulu selalu menekankan:
“Belajarlah adab terlebih dahulu, baru kemudian ilmu.” Ajarkan anak cara berbicara yang santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, memiliki rasa malu, serta empati terhadap sesama makhluk hidup. Ingatkan mereka pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” tegas Ustadz Mahdi.
5. Bangun Komunikasi Hangat dan Jadilah Sahabat Bagi Anak
Pola asuh yang kaku dan penuh larangan tanpa penjelasan justru dapat mendorong anak mencari pelarian di luar rumah. Dalam ajaran Islam, Ali bin Abi Thalib RA memberikan panduan yang sangat bijak mengenai tahapan mendidik anak:
“Ajaklah mereka bermain pada tujuh tahun pertama, didiklah mereka dengan kedisiplinan pada tujuh tahun kedua, dan jadikanlah mereka sahabat pada tujuh tahun ketiga, yaitu saat mereka memasuki usia remaja.”
Buatlah rumah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk bercerita. Dengarkan keluh kesah dan pendapat mereka tanpa langsung menghakimi. Melalui obrolan santai, nilai-nilai keislaman akan lebih mudah masuk dan diterima dibandingkan dengan ceramah yang terasa membebani.
Mendidik anak agar tetap berada di jalan yang benar di tengah derasnya arus tantangan zaman memang bukan perkara mudah. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Di samping melakukan segala upaya dan ikhtiar nyata, jangan lupa bahwa doa orang tua adalah senjata paling ampuh. Selipkanlah nama anak-anak di dalam setiap sujud dan permohonan kepada Allah SWT agar senantiasa menjaga hati, akal, dan iman mereka dari segala fitnah dan bahaya.
“Ingat, mendidik anak yang saleh dan salehah adalah investasi pahala jariyah yang tidak akan terputus, bahkan setelah kita tiada nanti. Mari mulai dari hal-hal sederhana, konsisten, dan melibatkan mereka dalam kebaikan, salah satunya dengan mengenalkan indahnya berbagi dan bersedekah sejak dini” pungkas Ustadz Mahdi. (Hendri)



































