OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus meningkat. Hingga Selasa (14/7/2026), jumlah kejadian karhutla di wilayah tersebut bertambah menjadi 19 kasus, membuat OKI semakin mengkhawatirkan dalam peta rawan kebakaran di Sumatera Selatan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel sebelumnya menempatkan OKI sebagai salah satu dari empat daerah berstatus zona oranye, yakni wilayah dengan 15–30 kejadian karhutla. Tiga daerah lainnya adalah Kabupaten OKU (19 kejadian), Kota Palembang (18 kejadian), dan Kabupaten Muratara (17 kejadian).
Sementara itu, lima daerah telah masuk zona merah dengan tingkat kejadian lebih tinggi, yakni Kabupaten PALI (57 kejadian), Musi Banyuasin (49), Ogan Ilir (42), Banyuasin (37), dan Muara Enim (33).
Kepala Pelaksana BPBD OKI, Nova Kurnia, mengakui tren karhutla di wilayahnya mulai meningkat, terutama di kawasan bergambut yang sulit dijangkau petugas.
“Memang benar kita masuk zona oranye. Karhutla mulai banyak terjadi, terutama di lahan gambut, tetapi juga ada di lahan mineral,” ujar Nova.
Menurutnya, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar karena akses yang sulit membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan, meski melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri hingga perusahaan sekitar.
BPBD mencatat titik-titik yang paling sering dilanda karhutla berada di Pedamaran Timur, Pangkalan Lampam, Cengal, Sungai Menang, dan Tulung Selapan. Dua kejadian terbaru bahkan muncul pada Selasa di Kecamatan Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam, sehingga total kasus di OKI kini mencapai 19 kejadian.
Meski demikian, BPBD masih optimistis situasi dapat dikendalikan melalui upaya pencegahan dan keterlibatan masyarakat. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
BPBD juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api yang belum terpantau petugas agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD OKI telah menempatkan satuan tugas di sembilan kecamatan yang dinilai paling rawan karhutla. Namun, Nova menegaskan penanganan bencana ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Kami membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari perangkat desa hingga kecamatan, agar bersama-sama berkoordinasi dan berkolaborasi mencegah serta menanggulangi karhutla,” tegasnya.



































