JAKARTA, KITOUPDATE.COM – Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah ahli dan peneliti dari beberapa lembaga dan sejumlah kampus ke Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis, untuk membahas tata kelola lahan gambut.
Rapat terbatas yang khusus membahas gambut itu dijadwalkan berlangsung pukul 15.00 WIB.
Jajaran menteri dan kepala lembaga yang tiba sejak pukul 14.30 WIB, di antaranya Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
“Hari ini kita diundang untuk membahas masalah gambut ya. Jadi, gambut ini ada dua hal. Pertama, tentu masalah karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang harus kita selesaikan. Kedua, bagaimana sustainable use dari gambut,” kata Kepala BRIN Arif Satria menjawab pertanyaan wartawan sebelum mengikuti rapat.
Arif melanjutkan pemanfaatan lahan gambut seluas 24 juta hektare saat ini berpedoman kepada peraturan pemerintah, yaitu maksimal 70 persen pemanfaatan dan 30 persen minimum kawasan lindung.
“Kita harus berpikiran di satu sisi sustainable use ini harus benar-benar kita desain dengan baik, karena di sana ada 41 juta penduduk yang hidup di kawasan hidrologis gambut, karena itu saya yakin hari ini Pak Presiden mengundang para ahli, para pakar untuk membahas masalah pengelolaan gambut ini,” ujar Arif.
Dalam daftar undangan yang beredar, ahli dan peneliti yang diundang untuk ikut rapat membahas gambut di Istana, antara lain Bagus Muljadi (Nottingham University), Azwar Maas (UGM), Zakaria Amsari (Universiras Tanjungpura), Haris Gunawan (UNRI), Darmae Nasir (Universitas Palangka Raya), Henrik Segah (Universitas Palangka Raya), dan Yulianto S Nugroho (UI).
Kemudian, ada pula Asmari Saad (Universitas Jambi), Puji Lestari (ITB), Indratmo Soekarno (ITB), Made Hesti Lestari (BRIN), Ahmad Kurnain (Universitas Lambung Mangkurat), Bambang Kun Cahyono (UGM), Sigit Sutikno (UNRI), Ati Dwi Nurhayati (IPB), Muhammad Agung Santoso (UI), dan Elham Sumarga (ITB).



































