OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Menjadi garda terdepan dalam pengumpulan data sensus nasional bukanlah tugas yang mudah. Hal itu dirasakan Abdullah Hadi, atau yang akrab dipanggil Adi, pemuda asal Desa Batu Ampar, Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang kini bertugas sebagai petugas sensus ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS).
Di usianya yang masih muda, Adi memikul tanggung jawab besar yaitu memastikan setiap unit usaha, pelaku ekonomi mikro, hingga pedagang kecil di wilayahnya tercatat dengan akurat. Data yang ia kumpulkan nantinya akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan ekonomi, alokasi bantuan, hingga perencanaan pembangunan daerah selama beberapa tahun ke depan.
– Awal Mula Menjadi Petugas Sensus
Kesempatan bergabung dalam tim sensus ekonomi BPS OKI datang secara tak terduga bagi Adi. Awalnya, ia melihat pengumuman rekrutmen dari kantor kecamatan. Karena ingin berkontribusi bagi kemajuan desanya sekaligus mencari pengalaman berharga, ia pun mendaftar dan mengikuti serangkaian tes serta pelatihan intensif.
“Pelatihannya cukup mendalam. Kami diajarkan cara mendata dengan benar, membedakan jenis usaha, cara mendekati responden, hingga bagaimana menjaga kerahasiaan data yang diberikan masyarakat,” ungkap Adi. Kamis (09/07/2026).
Setelah dinyatakan lulus, Adi ditempatkan di wilayah tugas yang meliputi Desa Batu Ampar dan ia pun resmi memulai tugasnya sebagai garda terdepan sensus ekonomi.
– Suka: Kepuasan dan Kebaikan yang di temui
Di tengah lelahnya bekerja, Adi menemukan banyak hal yang membuatnya bangga dan bersemangat.
Pertama adalah rasa puas saat tugasnya dimengerti dan didukung masyarakat. Banyak warga yang menyambutnya dengan hangat, rela meluangkan waktu, dan terbuka menceritakan detail usahanya.
“Ada saha masyarakat yang bahkan menunggu saya datang dari pagi karena takut kehabisan waktu kalau sore. Itu membuat saya merasa dipercaya,” ceritanya.
Kedua, pengalaman berharga mengenal dunia ekonomi dari dekat. Adi kini tahu betul bagaimana perjuangan pelaku usaha di desanya, mulai dari pedagang kecil, petani yang menjual hasil panen, hingga pedagang keliling yang berjalan berpuluh kilometer setiap hari. Ia juga belajar banyak hal baru tentang administrasi, ketelitian, dan cara berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.
Ketiga, rasa senang bisa membantu desa. Adi yakin data yang ia kumpulkan akan menjadi bukti potensi ekonomi di Desa Batu Ampar, sehingga pemerintah bisa lebih tepat memberikan bantuan, pelatihan, atau fasilitas yang dibutuhkan warga.
– Duka: Perjalanan Jauh dan Keraguan Masyarakat
Namun, tidak semua hari berjalan mulus. Sebagai petugas lapangan, Adi menghadapi beragam tantangan yang menguji kesabaran dan ketangguhannya dan salah satu tantangan terbesar adalah medan dan akses jalan karena tidak hanya bertugas diareal keramaian bahkan ada wilayah desa yang jauh dari keramaian dan terisolir.
“Pernah satu hari saya harus melewati jalan dan Medan yang sulit dilalui apalagi ketika turun hujan jalan tersebut terasa sangat licin dan berlumpur, tapi harus tetap tersenyum saat bertemu warga,” kenang Adi.
Kendala lain menurutnya adalah keraguan sebagian masyarakat. Beberapa warga enggan memberikan data karena takut informasinya disalahgunakan, khawatir akan ada pajak tambahan, atau sekadar tidak mengerti tujuan sensus ini. Ada juga pelaku usaha yang sering tidak ada di tempat karena sibuk berdagang di luar desa, sehingga Adi harus datang berulang kali.
“Pernah ada warga yang tidak mau didata sama sekali. Saya harus sabar menjelaskan pelan-pelan, menunjukkan surat tugas, dan meyakinkan bahwa data ini hanya untuk perencanaan pembangunan serta dijamin kerahasiaannya oleh undang-undang,” jelas Adi.
Kelelahan fisik dan waktu istirahat yang berkurang juga menjadi bagian dari duka yang ia rasakan. Seringkali ia harus menyelesaikan penginputan data hingga larut malam agar tidak menumpuk tugas untuk hari berikutnya.
– Semangat Yang Tetap Menyala
Meski penuh rintangan, Adi tidak pernah berpikir untuk berhenti. Ia menyadari peran kecilnya sangat berarti bagi daerahnya.
“Kalau kami petugas lapangan tidak teliti, datanya kurang lengkap, maka rencana pembangunan pun tidak akan tepat sasaran. Saya ingin desa saya dikenal potensinya, dan warga yang bekerja keras di sini mendapatkan perhatian yang layak,” tegasnya.
Kepada pemuda lain yang ada di desanya, Adi pun berpesan dan memberikan motivasi positif bahwa pada dasarnya pemuda sangat lah dibutuhkan kontribusinya melalui kegiatan positif yang membangun.
“Jangan ragu terlibat dalam kegiatan pembangunan. Banyak hal yang bisa kita berikan, sekecil apa pun itu. Keterlibatan kita adalah cara terbaik membangun tempat kita tinggal.” pesan Adi.
Sementara itu, Kepala Desa Batu Ampar, M. syukri memuji dedikasi Adi.
“Pemuda seperti Adi adalah aset berharga. Ia rela berkorban waktu dan tenaga demi kepentingan bersama. Kami berharap warga semakin mendukung tugasnya demi kelancaran sensus ini secara keseluruhan,” tutup Syukri.
Hingga saat ini, Adi masih terus berjalan dari satu rumah ke rumah, satu kios ke kios. Dengan seragam petugas yang kadang sudah kusam, senyum tulusnya tak pernah hilang, sebagai bukti cinta pemuda Desa Batu Ampar pada tanah kelahirannya, yang diwujudkan lewat tugas mulia sebagai garda terdepan data bangsa. (Hendri)



































