OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, belum lepas dari ancaman. Puluhan titik panas dan titik api terdeteksi di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan. Sementara itu, upaya pemadaman dari udara terkendala jarak pandang akibat kepungan asap.
Di tengah situasi tersebut, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Bupati OKI Muchendi Mahzareki bermalam di tenda posko penanganan karhutla di Desa Jungkal, Minggu (11/10) malam. Kehadiran keduanya ditujukan untuk memberi dukungan langsung kepada petugas yang masih berjibaku memadamkan api.
Di posko, Deru dan Muchendi berdialog dengan personel satuan tugas (satgas) karhutla. Mereka mendengarkan laporan perkembangan kebakaran, kendala pemadaman, hingga kebutuhan personel yang bertugas di lapangan.
Deru mengatakan, keputusannya bermalam di posko merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada petugas yang bekerja dalam kondisi sulit. Selain dukungan moril, pemerintah juga menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya.
“Dengan begitu, mereka tahu kami juga memperhatikan dengan cara malam ini menginap di sini,” kata Deru.
Keduanya kemudian makan malam bersama petugas di depan tenda posko. Dalam pertemuan itu, berbagai tantangan selama operasi pemadaman turut menjadi bahan pembicaraan.
Tiga Bulan Tanpa Hujan, Pemadaman Kian Berat
Deru mengungkapkan, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan karhutla tahun ini. Kemarau berkepanjangan membuat lahan mengering dan meningkatkan kerawanan kebakaran, terutama di kawasan gambut.
Menurut dia, wilayah Desa Jungkal sudah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir tercatat pada 27 Juni lalu. Dampaknya, sawah dan sumur mengering, debit air sungai menyusut, sementara vegetasi kering semakin mudah terbakar.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pemadaman api yang sudah muncul, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran baru, terutama ketika angin membantu penyebaran api.
“Kita harus sikapi ini dengan teguh tapi sabar serta terus berikhtiar,” ujar Deru.
Ia meminta masyarakat menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan untuk mencegah munculnya titik api baru.
“Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api,” katanya.
Deru juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai material kering, seperti ranting dan dedaunan, yang dapat menjadi bahan bakar ketika terjadi kebakaran.
47 Hotspot, Sembilan Firespot di Jungkal
Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan, terdapat 47 titik panas atau hotspot dan sembilan titik api atau firespot di wilayah Desa Jungkal.
Deru menyebut OKI sebagai salah satu daerah dengan jumlah titik panas dan titik api yang tinggi. Luasnya kawasan lahan gambut di kabupaten tersebut turut meningkatkan kerawanan karhutla.
Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, Desa Jungkal menjadi salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, terutama di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.
Muchendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi asap yang terjadi. Ia memastikan pemerintah kabupaten akan berupaya maksimal menangani kebakaran dan mengurangi dampaknya.
“Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini,” ujar Muchendi.
Water Bombing Terkendala, Asap Bergerak ke Palembang
Tantangan penanganan karhutla tidak hanya terletak pada kondisi lahan yang kering. Upaya pemadaman dari udara juga menghadapi kendala karena helikopter untuk pengeboman air atau water bombing belum dapat mengudara akibat jarak pandang yang rendah.
Padahal, pemadaman dari udara dibutuhkan untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.
Pada saat bersamaan, angin yang berembus ke arah utara membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Dampak karhutla pun meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat di luar wilayah kebakaran.
Bermalamnya Gubernur Sumsel dan Bupati OKI di posko menjadi momentum untuk menyerap laporan petugas sekaligus memberi dukungan kepada personel yang bertugas. Namun, tantangan di lapangan masih membutuhkan penanganan berkelanjutan, mulai dari pemadaman titik api, pencegahan kebakaran baru, hingga pengurangan dampak asap terhadap masyarakat. (Eko Saputra)


































