OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pemerintah Kabupaten OKI memastikan warga terdampak tetap mendapat pelayanan kesehatan secara maksimal dan gratis.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap karhutla hingga kini masih melanda sejumlah kecamatan di OKI, di antaranya SP Padang, Pampangan, Pangkalan Lampam, Tulung Selapan, Air Sugihan, Cengal, Sungai Menang, Pedamaran Timur, Pedamaran, Teluk Gelam, Tanjung Lubuk hingga Kayuagung.
Kondisi tersebut membuat ancaman gangguan kesehatan akibat paparan asap masih menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Bupati OKI Muchendi Mahzareki meminta seluruh jajaran puskesmas, terutama di wilayah terdampak asap, tidak hanya menunggu warga datang berobat. Petugas diminta aktif turun memberikan edukasi sekaligus memantau keluhan kesehatan masyarakat.
Hal itu disampaikan Muchendi saat meninjau Puskesmas Tulung Selapan, Selasa (6/10), sekaligus melihat kondisi kesehatan warga di tengah paparan asap karhutla, termasuk anak-anak yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
“Yang paling penting masyarakat harus mendapat pelayanan kesehatan secara maksimal. Kalau ada keluhan akibat asap, segera ditangani. Pelayanannya gratis, sesuai dengan edaran dan arahan Gubernur Sumatera Selatan,” kata Muchendi.
Data Puskesmas Tulung Selapan menunjukkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih ditemukan dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juni tercatat 130 kasus, kemudian 135 kasus pada Juli dan meningkat menjadi 158 kasus pada Agustus.
Jumlah tersebut kemudian tercatat 118 kasus pada September dan 28 kasus hingga minggu pertama Oktober.
Data itu menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah kabut asap karhutla yang masih melanda sejumlah wilayah OKI.
Muchendi mengatakan dampak karhutla bukan hanya persoalan kebakaran lahan. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu kesehatan, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Karena itu, ia meminta puskesmas memperkuat edukasi mengenai gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap, mulai dari batuk, sesak napas, iritasi mata hingga keluhan pernapasan lainnya.
“Puskesmas harus aktif mengedukasi masyarakat. Jangan sampai warga tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika kualitas udara memburuk dan mulai muncul keluhan kesehatan,” ujarnya.
Selain layanan kesehatan gratis, Muchendi meminta distribusi masker diperluas ke masyarakat di wilayah terdampak, termasuk sekolah dan para siswa.
Menurutnya, perlindungan terhadap anak perlu menjadi perhatian khusus karena aktivitas belajar tetap berlangsung di tengah kondisi udara yang kurang baik.
“Masker harus dibagikan gratis kepada masyarakat sekitar. Sekolah-sekolah juga harus mendapat pembagian masker. Anak-anak harus kita lindungi,” katanya.
Muchendi juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker.
Ia meminta warga tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul setelah terpapar asap.
“Jangan menunggu kondisi menjadi berat. Kalau mulai batuk, sesak, mata terasa perih, atau ada gangguan pernapasan setelah terpapar asap, segera datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Muchendi. (Eko Saputra)


































