OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Program makanan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2025, sejumlah insiden mencuat dan mengindikasikan adanya kelalaian serius dalam pelaksanaan program yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah.
Yang terbaru, puluhan pelajar SDN 5 dan SMPN 1 Kecamatan Pedamaran mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari program MBG. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, dan sakit perut. Para siswa mendapat perawatan di Puskesmas setempat, sementara hasil laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan masih menunggu.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan kualitas makanan, sekaligus menyoroti potensi risiko kesehatan yang justru timbul dari program yang seharusnya memberi manfaat.
Selain kasus di Pedamaran, sepanjang 2025 juga ditemukan berbagai persoalan lain dalam pelaksanaan MBG, diantaranya distribusi terlambat, sehingga makanan tidak diterima tepat waktu dan mengurangi efektivitas program. Kendala logistik dan SDM, yang menghambat kelancaran distribusi sekaligus pengawasan kualitas. Berbagai masalah tersebut menunjukkan lemahnya manajemen dan kontrol internal, yang pada akhirnya dapat membahayakan anak-anak serta merusak kredibilitas program.
Ketua DPD Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) OKI Rivaldy Setiawan SH menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh dan langkah tegas untuk memperbaiki program MBG. Ia merinci sejumlah solusi antara lain evaluasi standar makanan, pengawasan distribusi harus ketat, pelatihan SDM, transparansi total serta sanksi tegas.
“Program MBG harus memberi manfaat maksimal bagi anak-anak. Tidak ada ruang bagi kelalaian atau praktik yang membahayakan kesehatan mereka. Evaluasi menyeluruh dan tindakan konkret harus segera dilakukan,” tegas Rivaldy, Rabu (3/9/2025).
Kasus keracunan di Pedamaran dan berbagai persoalan sistemik lainnya memperlihatkan bahwa pelaksanaan program MBG di OKI masih berisiko tinggi.
Solusi mendesak yang harus diambil antara lain transparansi penuh, evaluasi menyeluruh, peningkatan kapasitas SDM, pengawasan distribusi, serta penerapan sanksi tegas. Program MBG semestinya benar-benar aman dan bermanfaat bagi seluruh siswa, bukan sekadar formalitas tanpa pengawasan. (Rico)

































pengawasan sangat dibutuhkan saat ini baik dr pihak yang berwenang ataupun dari masyarakat sendiri. selain dr segi kesehatan yg belum terjamin porsi makanan jg kadang tidak sesuai. seupil asal ada aja kelihatannya.
kemarin jg ada MBG didaerah kami yang makanannya basi, ayam berbau busuk bahkan ada belatungnya, itu isu yg saya dengar dr guru dan wali murid