Beranda PALI Sutarni, Petani Perempuan Talang Ubi Utara Dongkrak Hasil Panen Lewat Pertanian Organik

Sutarni, Petani Perempuan Talang Ubi Utara Dongkrak Hasil Panen Lewat Pertanian Organik

62
0

PALI, KITOUPDATE.COM – Hamparan sawah di Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi saksi perjuangan seorang petani perempuan yang berhasil mengubah keterpurukan menjadi keberhasilan melalui pertanian organik. Berkat kegigihannya, Sutarni kini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga ikut mendorong kemandirian pangan dan kesejahteraan petani di wilayahnya.

Sekitar sepuluh tahun lalu, kehidupan Sutarni berada di ambang kesulitan ekonomi akibat panen yang kerap gagal. Lahan sawah yang dikelolanya rusak karena serangan jamur akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Dua tahun kemudian, serangan ulat grayak kembali menghancurkan harapan para petani dengan menggagalkan panen.

Sutarni masih mengingat masa-masa sulit ketika dirinya harus berutang ke toko demi membeli pupuk. Bahkan, tagihan listrik dan biaya sekolah anaknya sempat menunggak hingga enam bulan.

Menurutnya, menjadi petani di Talang Ubi Utara bukanlah pekerjaan yang mudah. Meski tidak diserang hama, keuntungan yang diperoleh tetap sangat tipis. Saat itu, produktivitas sawah hanya mencapai sekitar 2,5 hingga 3 ton beras per hektare dengan harga jual sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Di sisi lain, biaya produksi terus membengkak, mulai dari pembelian benih hingga pupuk kimia yang harganya semakin mahal. Kondisi tersebut membuat rata-rata pendapatan petani hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Melihat situasi tersebut, Sutarni mulai mencari alternatif melalui sistem pertanian organik. Namun, keterbatasan pengetahuan dan modal menjadi tantangan besar untuk mengubah pola bertani yang telah lama bergantung pada pupuk kimia.

Harapan datang pada tahun 2021 ketika Pertamina EP Pendopo Field, yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, meluncurkan Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA). Sutarni bersama anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela dan Kelompok Tani Rejomulyo kemudian bergabung dalam program tersebut.

Melalui program ini, para petani mendapatkan pelatihan untuk memulihkan kesuburan lahan menggunakan pupuk organik berbahan jerami dan kotoran hewan. Mereka juga dibekali teknik penanaman yang baik serta pengendalian hama secara alami menggunakan asap batok kelapa maupun larutan berbahan susu, telur, dan madu.

Selain pelatihan dan pendampingan, Pertamina EP Pendopo Field juga menyediakan sekretariat bagi kedua kelompok tani untuk beraktivitas serta memberikan berbagai peralatan pertanian guna mendukung pengembangan pertanian organik di Talang Ubi Utara.

Hasilnya mulai terlihat pada lahan seluas 15 hektare yang dikelola Sutarni bersama para petani lainnya. Jika sebelumnya mereka membutuhkan sekitar 100 kilogram benih per hektare, kini cukup menggunakan 5 kilogram benih per hektare. Ketergantungan terhadap pupuk kimia yang mahal pun dapat ditekan sehingga biaya produksi menjadi jauh lebih efisien.

Produktivitas panen juga meningkat signifikan. Dari sebelumnya sekitar 2,5 ton per hektare, kini mencapai 4,5 ton per hektare atau naik sekitar 80 persen dengan masa tanam 3–4 bulan. Kualitas beras yang dihasilkan pun lebih baik sehingga mampu dijual hingga Rp20 ribu per kilogram.

Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Rata-rata pendapatan mereka kini mencapai sekitar Rp8 juta per bulan. Sutarni pun tidak lagi harus berutang untuk membeli pupuk, sementara kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya listrik dan pendidikan anak, dapat terpenuhi dengan baik.

“Dulu hasil panen tidak menentu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sering tidak cukup. Sekarang produksi beras meningkat berkat pertanian organik dan kami para petani bisa hidup lebih layak,” ujar Sutarni.

Keberhasilan itu mendorong Sutarni memperluas manfaat pemberdayaan bagi perempuan di desanya. Pada tahun 2024, ia mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela yang tidak hanya bergerak di bidang pertanian, tetapi juga menjadi ruang belajar dan pemberdayaan perempuan.

Saat ini, KWT Rosela memiliki 20 anggota yang mengelola lahan seluas setengah hektare di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field. Berbagai tanaman obat keluarga dan hortikultura dibudidayakan, seperti rosela, jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto, serta aneka sayuran.

Hasil budidaya tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, antara lain Teh Rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi. Dari penjualan produk tersebut, kelompok mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp2 juta setiap bulan.

Tidak hanya berorientasi pada ekonomi, KWT Rosela juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat dan pelajar mengenai tanaman obat keluarga melalui kegiatan pembelajaran di lahan pertanian mereka.

Perjuangan Sutarni membuktikan bahwa kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan petani dapat diwujudkan melalui inovasi sederhana, semangat belajar, serta kolaborasi yang berkelanjutan.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong masyarakat di sekitar wilayah operasi agar dapat tumbuh bersama.

“PHR Zona 4 ingin memastikan masyarakat di sekitar wilayah operasi bisa tumbuh bersama seiring kehadiran perusahaan. Ibu Sutarni menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang tepat dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yakni PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.

Wilayah operasi tersebut tersebar di dua kota, yaitu Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten, yakni Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.

PHR Regional Sumatra Zona 4 berada di bawah koordinasi dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). (Anies)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini