OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Pergantian kepemimpinan di tubuh DPC PKB Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memicu gejolak internal. HM Dja’far Shodiq, sosok yang berhasil membawa PKB mencetak sejarah dengan meraih 7 kursi DPRD OKI, kini harus melepas kursi ketua kepada keponakannya sendiri, Farid Hadi Sasongko.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) resmi menetapkan kepengurusan baru DPC PKB Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, hasil Musyawarah Cabang (Muscab) yang digelar pada 18 April 2026 di Hotel Dinesti Resort.
Pengumuman yang disampaikan di Kantor DPP PKB, Jakarta, Kamis (11/6/2026), menetapkan Farid Hadi Sasongko sebagai Ketua DPC PKB OKI periode 2026–2031, yang tidak lain adalah keponakan dari HM Dja’far Shodiq. Penetapan tersebut langsung menjadi perbincangan di internal partai karena menggantikan HM Dja’far Shodiq, figur yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh sentral PKB di OKI.
HM Dja’far Shodiq tercatat berhasil membawa PKB meraih 7 kursi DPRD OKI pada Pemilu Legislatif terakhir. Raihan tersebut menjadi capaian terbaik partai dan mengantarkan PKB sebagai salah satu kekuatan politik utama di parlemen daerah.
Pergantian kepemimpinan ini memunculkan beragam respons dari kader. Sejumlah kader mengaku kecewa lantaran menilai jasa dan kontribusi HM Dja’far Shodiq belum mendapat apresiasi yang sepadan.
“Di bawah kepemimpinan beliau, PKB berhasil mencatat sejarah dengan meraih tujuh kursi DPRD. Wajar jika banyak kader mempertanyakan keputusan ini,” ujar seorang kader yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain menetapkan Farid Hadi Sasongko sebagai ketua, DPP PKB juga menunjuk Kenedi sebagai Sekretaris DPC dan Erwin Ronel sebagai Bendahara.
Namun perhatian kader dan simpatisan partai lebih tertuju pada perubahan kepemimpinan yang terjadi. Beberapa kader bahkan mengaku pesimistis kepengurusan baru mampu mempertahankan capaian politik yang telah diraih pada periode sebelumnya.
Situasi tersebut memunculkan wacana pengunduran diri sejumlah kader dari struktur kepengurusan. Mereka menilai perlu ada langkah rekonsiliasi untuk menjaga soliditas partai menjelang agenda politik mendatang.
Pengamat politik lokal menilai dinamika pasca-Muscab merupakan tantangan serius bagi PKB OKI. Jika tidak segera dikelola dengan baik, perbedaan pandangan di internal partai berpotensi memengaruhi kekuatan politik PKB pada pemilu mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, baik HM Dja’far Shodiq maupun Farid Hadi Sasongko belum memberikan keterangan resmi terkait dinamika yang berkembang pasca penetapan kepengurusan baru tersebut. (Eko Saputra)






























