OGAN KOMERING ILIR, KITOUPDATE.COM – Langkah konkret untuk memastikan setiap anak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mendapatkan hak pendidikan yang layak kembali digaungkan. Pada Selasa, 20 Mei 2026, telah disepakati sebuah kerja sama strategis antara Tenaga Ahli Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kabupaten OKI, jajaran Pendamping Desa, dan Dinas Pendidikan Kabupaten OKI.
Kesepakatan ini bertujuan untuk menyukseskan proses pendataan dan pemberdayaan Relawan Pendidikan, sebagai ujung tombak dalam upaya menuntaskan permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, khususnya di daerah-daerah terpencil dan pinggiran sungai di Kabupaten OKI.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten OKI ini dihadiri oleh para Tenaga Ahli P3MD yang bertugas di berbagai kecamatan, dan Pendamping Desa, serta pejabat struktural dan staf teknis dari Dinas Pendidikan Kabupaten OKI. Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa sinergi lintas sektor ini menjadi sangat mendesak mengingat masih terdapat sejumlah anak usia sekolah dasar hingga menengah yang belum mengenyam pendidikan formal, putus sekolah, atau belum terdaftar dalam sistem pendidikan nasional.
Tenaga Ahli P3MD Kabupaten OKI, Nensi Noviyanti, ST,.MT menyampaikan bahwa pihaknya bersama para Pendamping Desa memiliki akses langsung dan pemahaman mendalam mengenai kondisi sosial masyarakat hingga ke tingkat dusun dan desa. Keunggulan inilah yang akan dijadikan modal utama untuk mendukung Dinas Pendidikan.
“Kami hadir di tengah masyarakat setiap hari. Para Pendamping Desa dan Tenaga Ahli P3MD mengetahui persis siapa saja anak-anak yang belum bersekolah, alasan mereka tidak bersekolah, serta kondisi ekonomi dan sosial keluarga mereka. Informasi ini sangat krusial agar pendataan yang dilakukan tidak hanya sekadar angka, namun tepat sasaran dan akurat,” ungkap Nensi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa peran Tenaga Ahli P3MD dan Pendamping Desa tidak berhenti pada pengumpulan data saja. Mereka juga akan berperan aktif dalam memobilisasi dan mendampingi Relawan Pendidikan yang akan ditugaskan di setiap desa.
“Relawan Pendidikan ini nantinya akan bertugas menjembatani kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat, melakukan pendekatan persuasif kepada orang tua, serta memotivasi anak-anak untuk kembali atau mulai bersekolah. Kami menyakini dengan adanya Kolaborasi ini memastikan bahwa Relawan Pendidikan akan bekerja dengan panduan teknis dari Dinas Pendidikan serta dukungan operasional dari tim pemberdayaan masyarakat desa yang sudah barang tentu akan memudahkan kerja para relawan Pendidikan dilapangan” tegas Nensi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, Muhammad Refly, S.Sos,.MM menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa penuntasan Anak Tidak Sekolah adalah prioritas utama dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di OKI.
Menurutnya, Dinas Pendidikan memiliki keterbatasan dalam hal jangkauan lapangan ke seluruh pelosok desa, mengingat luasnya wilayah administrasi Kabupaten OKI. Oleh karena itu, kehadiran Tenaga Ahli P3MD dan Pendamping Desa dianggap sebagai kekuatan besar yang akan mempercepat dan mempermudah proses pendataan serta penanganan.
“Kami sangat bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari rekan-rekan Tenaga Ahli P3MD dan Pendamping Desa. Tanpa kerja sama ini, data yang kami miliki mungkin tidak selengkap dan seakurat yang kami harapkan. Relawan Pendidikan yang telah kami persiapkan akan didayagunakan secara maksimal, dan dengan bantuan teman-teman di desa, kami yakin target penuntasan Anak Tidak Sekolah dapat tercapai sesuai jadwal yang ditetapkan pemerintah pusat,” jelas Refly.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas mekanisme kerja teknis. Nantinya, Relawan Pendidikan akan dibekali pelatihan pemetaan sosial dan teknik pendataan yang mengacu pada standar data nasional.
“Data yang terkumpul akan disinkronkan secara berkala antara tim P3MD, Pendamping Desa, dan Dinas Pendidikan. Hal ini penting agar setiap anak yang teridentifikasi dapat segera mendapatkan penanganan, baik itu diarahkan ke jalur pendidikan formal, maupun ke jalur pendidikan nonformal dan kesetaraan seperti Paket A, B, atau C, bagi mereka yang sudah melewati batas usia sekolah reguler” tegas Refly.
Selain aspek pendataan, kolaborasi ini juga menyasar akar masalah dari fenomena Anak Tidak Sekolah, yang umumnya disebabkan oleh faktor ekonomi, jarak tempuh sekolah yang jauh, hingga kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan.
“Melalui pendekatan terpadu ini, kita harapkan setiap hambatan dapat diidentifikasi dan dicarikan solusinya bersama-sama, baik melalui bantuan sosial, penyediaan sarana transportasi, maupun peningkatan kesadaran masyarakat” tutup Refly.
Kadisdik OKI pun berharap dengan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, tenaga ahli, dan unsur masyarakat, tidak akan ada lagi anak di wilayah Kabupaten OKI yang kehilangan hak untuk belajar dan meraih masa depan.
Kolaborasi Tenaga Ahli P3MD, Pendamping Desa, dan Dinas Pendidikan Kabupaten OKI ini menjadi bukti nyata bahwa penuntasan buta aksara dan Anak Tidak Sekolah adalah tanggung jawab bersama, demi mewujudkan generasi muda OKI yang cerdas, berdaya saing, dan terbebas dari ketertinggalan pendidikan. (Hendri)




































